Cerita JK Soal Sri Mulyani dan Pembangkit Listrik Batu Bara

Cerita JK Soal Sri Mulyani dan Pembangkit Listrik Batu Bara

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 09 Jun 2015 11:15 WIB
Cerita JK Soal Sri Mulyani dan Pembangkit Listrik Batu Bara
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tidak ingin Indonesia bergantung pada satu energi, untuk memenuhi kebutuhan listriknya.. Ia ingin listrik berasal dari banyak energi, mulai fosil sampai ke energi baru terbarukan.

"Soal energi, kita harus menyusun mixed energy (energi bauran) yang baik. Tak mungkin hanya satu energi kita andalkan, apa itu minyak, batu bara, gas bumi dan lainnya. Harus ada mixed terutama energi baru terbarukan," kata JK, dalam sambutannya di acara Indonesia Green Infrastrukcture Summit 2015, di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2015).

JK mengatakan, Indonesia saat ini banyak memproduksi batu bara, namun jumlahnya akan habis, termasuk minyak dan gas bumi. Agar pasokan listrik terus berkelanjutan, harus banyak membangun pembangkit listrik dari energi baru terbarukan.

"List energy ke depan kita tidak akan memakai energi fosil. Justru energi terbarukan, hydro (air), geothermal (panas bumi)," katanya.

JK mengakui, untuk membangun pembangkit dengan energi baru terbarukan tidaklah mudah, butuh investasi yang cukup besar. Sementara bila mengandalkan energi fosil secara investasi murah, namun mahal dari segi operasinal.

"Investasi paling murah itu diesel (PLTD) hanya US$ 500.000 per megawatt (MW), tapi ongkos operasional bisa US$ 30 sen per kWh, kalau coal (PLTU) investasi US$ 1 juta per MW, tapi efek lingkungannya lebih bahaya, walaupun sudah banyak teknologi yang lebih baik," ucapnya.

Walaupun ada efek lingkungan, pemerintah memang masih bergantung pada PLTU baru bara, untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, karena investasi membangun PLTU lebih murah tapi kapasitasnya besar, namun biaya operasionalnya paling murah. Pemerintah juga punya program PLTU 10.000 MW.

"Saya ingin bercerita, ketika soal FTP 10.000 MW. Waktu itu Bu Ani (Sri Mulyani, Menteri Keuangan saat itu) bersama saya di pemerintahan, keputusan untuk FTP 10.000 MW itu berasal dari kita butuh kecepatan pembangunan dengan biaya tidak terlalu mahal. Maka dipilih coal (batu bara). Itu yang cepat, karena tidak butuh riset dan pembangunan panjang dan biaya besar," ungkapnya. Di acara ini juga dihadiri Sri Mulyani.

Terkait energy bauran nasional, JK mengungkapkan, 52% pasokan listrik dipenuhi dari batu bara, 24% dari gas bumi, BBM 15%, hydro dan geothermal 12%.

"Ke depan energi baru terbarukan harus dinaikkan sebanyak dua kali lipat," tutupnya.

(rrd/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads