Kementerian Koperasi dan UKM mencatat Indonesia pernah mengimpor singkong US$ 1,6 juta dari 3 negara yaitu China, Thailand, dan Vietnam, dalam setahun.
Deputi bidang Produksi Kemenkop UKMβ I Wayan Dipta mengungkapkan dengan luas pertanian yang cukup besar, seharusnya Indonesia tidak perlu impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wayan bercerita, potensi produksi singkong Indonesia relatif besar. Sayangnya potensi proβduksi ini tidak seimbang dengan minimnya akses pasar singkong di dalam negeri. Sehingga mengakibatkan petani malas menanam singkong.
"βSaya jadi teringat di tahun 1998 saat krisis itu, saya kedatangan 3 investor dari Taiwan, Hong Kong dan China dan mereka ingin meminta
Cassava Chips dari Indonesia dikirim ke China. Cassava Chips saat paling besar diproduksi di Lampung, Kediri dan Sulawesi Selatan," tambahnya.
Dengan adanya kerjasama antara Induk KUD dengan dua perusahaan asing yaitu βBeijing Zhong Shang and Technologi Development Co.Ltd asal China dan Imperial Plantation Corporation asal Malaysia dalam pembangunan pabrik tepung tapioka senilai US$ 4 juta atau sekitar Rp 52 miliar di Bangka, menjadi kabar baik,
Ia mengaku senang pasalnya potensi dibangunnya industri singkong di Bangka Belitung cukup besar karena banyak lahan pertanian yang tak terpakai.
"Saya senang kita punya potensi besar untuk singkong terutama tentu ke depan kita mandiri di bidang pangan ini," tambahnya.
Ia juga berharap, tidak hanya βtepung tapioka, tetapi pabrik yang dibangun di Bangka Belitung bisa menghasilkan mokaf. Mokaf ini yang dipakai dan digunakan untuk mengganti gandum.
"βIndonesia itu membutuhkan gandum setiap tahun 7,2 juta ton senilai Rp 35 triliun/tahun atau 20% dari kebutuhan pangan kita. Anggaran Kementan saja Rp 27 triliun. Kalau Induk KUD bisa kembangkan mokaf juga yang demandnya meningkat juga bisa mengganti subtitusi impor gandum seperti dapat dibuat untuk menghasilkan produk makanan seperti kue, roti yang dibutuhkan oleh kita," jelasnya.
(wij/hen)











































