Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang dalam situasi yang berat.
Hantaman dan tekanan perekonomian global tak bisa dihindari. Akibatnya, ekspor komoditas Indonesia terpukul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang menjelaskan, merosotnya harga komoditas membuat konsumsi dalam negeri menurun, utamanya masyarakat di wilayah yang mengandalkan komoditas sebagai penghasilan utama.
"Komoditas menurun membuat konsumsi bermotor dan properti turun, biasanya uang surplus yang muncul dari sawit dan tambang, sekarang nggak lagi, baik dari pemiliknya maupun karyawan secara umum," terang dia.
Untuk itu, Bambang menyebutkan, pemerintah mau tidak mau harus lebih agresif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan infrastruktur dan relaksasi kebijakan makro ekonomi seperti yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dengan melonggarkan aturan Loan To Value (LTV) untuk kendaraan bermotor dan Kredit pemilikan Rumah (KPR).
"Mau tidak mau peran pemerintah masih harus dominan, kalau berharap investasi swasta ini medium term, yang bisa dinikmati tahun depan ya infrastruktur. 2015 jadi pelajaran bagus untuk lebih baik di 2016. Kita masih punya optimisme, semester dua pertumbuhan lebih baik," jelas Bambang.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan ekonomi di semester kedua tahun ini akan lebih baik seiring serapan belanja pemerintah yang lebih tinggi. Optimisme ini akan berlanjut hingga tahun depan.
"Yang mendorong dari sisi fiskal, semester dua realisasi belanja lebih baik, jadi mendorong kegiatan ekonomi, yang utama mempercepat realisasi belanja. Kemudian dari sisi belanja sosial, pertanian, UMKM, ini akan meningkatkan daya beli masyarakat. Tahun depan bisa 5,4-5,8%. Itu akan sangat tergantung seberapa besar stimulus fiskal," imbuhnya.
Dalam data Kementerian Keuangan yang ada dalam rapat kerja Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dengan Badan Anggaran DPR, tertera data prediksi asumsi makro dalam APBN Perubahan (APBN-P 2015).
Berikut prediksi asumsi makro hingga semester I-2015 seperti dikutip, Rabu (1/7/2015).
- Pertumbuhan ekonomi 4,9% dari target APBN-P 5,7%
- Inflasi 7,26% dari target APBN-P 5%
- Suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 5,7% dari target APBN-P 6,2%
- Nilai rukar rupiah terhadap dolar Rp 12.964/US$, dari target APBN-P Rp 12.500/US$
- Harga minyak Indonesia (ICP) US$ 56/barel, dari target APBN-P US$ 60/barel
- Lifting minyak 750,6 ribu barel per hari, dari target APBN-P 825 ribu barel per hari
- Lifting gas 1,160 juta barel setara minyak per hari, dari target APBN-P 1,221 juta barel setara minyak per hari
- Angka proyeksi ini berdasarkan realisasi pada 26 Juni 2015.










































