Follow detikFinance
Senin 20 Jul 2015, 19:26 WIB

Selain di RI, Jepang dan China Bersaing Bangun Kereta Cepat Malaysia

Lani Pujiastuti - detikFinance
Selain di RI, Jepang dan China Bersaing Bangun Kereta Cepat Malaysia
Kuala Lumpur -

China dan Jepang bersaing untuk memenangkan proyek pembangunan proyek kereta cepat di Indonesia khususnya Jakarta-Bandung. Persaingan kedua negara tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, mereka juga bersaing dalam proyek kereta cepat Malaysia dan Singapura.

Keduanya bersaing ketat dalam mega proyek jalur kereta cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur-Singapura sepanjang 340 km.

Proyek tersebut rencana awal mulai dibangun triwulan III-2015, dan akan selesai pada 2020. Bila proyek kereta cepat ini berhasil, kedua ibu kota negara tersebut akan terhubung dengan kereta dan dalam waktu 90 menit.

Perusahaan kereta api di Jepang dan China semangat bersaing untuk memainkan peran dalam proyek tersebut. Pihak China telah menemui Perdana Menteri Singapura dan menyatakan ingin membantu membangun kereta berkecepatan tinggi Malaysia-Singapura.

Selain itu, pihak Jepang telah bertemu Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak untuk menangani proyek kereta dengan kecepatan tinggi.

"Shinkansen Jepang dan teknologi kereta api negara itu sangat kompetitif," kata Najib Mei lalu.

"Saya percaya perusahaan Jepang dapat memberi penawaran kompetitif," tambahnya.

Waktu itu Najib mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan memilih pemenang antara kedua negara tersebut. Faktor dana dan teknologi sistem operasi menjadi faktor kunci menentukan pemenang proyek.

Para pemimpin Malaysia dan Singapura telah sepakat untuk menghubungkan ibu kota mereka dengan kereta cepat. Saat ini, membutuhkan waktu satu jam dengan pesawat ditambah 1 jam perjalanan dari pusat kota Kuala Lumpur ke bandara, 4 jam dengan mobil dan hampir 7 jam dengan kereta api biasa. Sistem kereta api tersebut akan menggunakan rel tunggal yang telah ada sejak era kolonial Inggris.

Sementara itu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sempat menganggap rencana tuntasnya proyek kereta cepat Singapura-Kuala Lumpur pada 2020 tak realistis. Menurutnya perlu waktu satu tahun untuk merancang desain dan tender.

"Kami melihat timeline awal selesai di 2020, saya pikir itu tidak realistis," ungkap Lee Hsien Loong seperti dikutip dari reuters, Senin (20/7/2015).

Malaysia menganggap proyek ini akan menjadi pembawa berubahan dalam mengembangkan kota-kota pedesaan di sepanjang rute di Malaysia. Rute tersebut akan melintasi lima kota pesisir. Bagi Singapura, dengan waktu perjalanan lebih pendek akan memangkas biaya perjalanan bisnis serta dapat menarik pekerja dari Malaysia.

Selain di Malaysia dan Singapura, China juga sedang menjajaki proyek pengembangan kereta hingga ke Chili. PM China juga telah bertemu Perdana Menteri Australia Tony Abbott menyatakan China akan mendukung perusahaan dalam berinvestasi di sektor transportasi publik kereta api.

Selain itu, China juga agresif bekerjasama dengan Rusia membangun kereta cepat, sudah sampai tahap yang serius.

Sedangkan di Indonesia, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini sedang menyeleksi siapa pemenang untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung pada tahun 2015. Konsultan independen akan ditunjuk untuk menyeleksi, apakah investor Jepang atau China yang layak membangun kereta cepat senilai Rp 67 triliun tersebut.

(hen/hen)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed