"Selama ini pengusaha pakan ternak merupakan pembeli berkapasitas besar. Impor jagung kita selama ini mencapai 3 juta ton per tahun berasal dari 14 negara. Artinya dari dulu pasar sebetulnya sudah menganga. Iklim cocok, petani mampu, lahan ada, kenapa sampai saat ini nggak bisa produksi sendiri," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Muladno dalam jumpa pers di Gedung C Kementerian Pertanian, Senin (3/8/2015).
Muladno beralasan petani jagung di Indonesia selalu bisa bertanam, di sisi lain para pembeli sudah ada yaitu para perusahaan pakan ternak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) merupakan pengguna jagung impor terbesar. Jagung-jagung impor dipakai untuk bahan baku pakan ternak.
"Kami ingin petani jagung makmur tanam, dipanen, lalu dipakai sendiri. Transport impor jagung dari Argentina memang lebih murah dari kirim NTT dan dalam kapasitas besar. Pengiriman lokal itu sedikit-sedikit jadi mahal. Bagaimana kita kirim sebanyak dari Argentina tapi sumbernya dari NTT dan sekitarnya," kata Muladno.
Ia mengatakan pasar jagung di dalam negeri rata-rata mencapai 8 juta ton per tahun. Bahkan Indonesia bisa mengekspor jagung ke beberapa negara seperti Filipina.
"Kita punya pasar 8 juta ton. Kita bisa ekspor dari Gorontalo ke Filipina kok selama ini masih impor. Mestinya ngga perlu impor, entah gimana caranya. Sumbawa ternyata ekspor ke Filipina, karena lebih bersaing daripada dikirim ke Jawa," jelas Muladno.
Berdasarkan Angka Ramalan (ARAM) I 2015 Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung di dalam negeri mencapai 20,67 juta ton pipilan kering jagung.
Angka ini tercatat meningkat sekitar 1,66 juta ton atau setara 8,72% dari produksi jagung 2014 yang hanya sebanyak 19,01 juta ton pipilan kering.β
Hal ini karena luas panen untuk jagung tahun 2015 bertambah diperkirakan hingga menjadi 160.480 hektar atau bertumbuh 4,18%. Sementara, produktivitas diperkirakan naik 2,16 kwintal per hektar atau naik 4,36%.
(hen/hen)











































