Pedagang daging sapi di Jabodetabek dan Bandung mogok berjualan akibat melambungnya harga. Situasi ini justru mengundang rasa heran para pedagang daging sapi di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
"Lha di sini (Bantul) itu justru turun terus. Lebaran lalu mencapai Rp.130 ribu per kilogram, dan turun terus hingga sekarang ini hanya Rp 100 ribu/kg," kata Murjilah saat ditemui di pasar tradisional Bantul, Senin (10/08/2015).
Murjilah tidak tahu pasti, kenapa di Jabodetabek harga daging sapi mencapai hingga Rp 120 ribu/kg. Padahal di Bantul, sejak naik saat lebaran lalu, harga saat ini justru berangsur turun. Ia mengaku, harga daging di Bantul selalu tergantung harga kulakan dari pemasok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senanda dikatakan Nunik Rahayu. Pedagang yang sudah belasan tahun jualan daging sapi ini mengatakan, kondisi saat ini tak berbeda dengan hari-hari sebelum ada gejolak di Jabotabek.
"Pedagang di DIY kan rata-rata ambil dari sentra di Segoroyoso Pleret. Tidak pernah naik sejak lebaran kemarin. Konsumen pun tetap, tak ada penurunan," ujarnya.
Para pedagang di pasar tradisional Bantul mengaku, rata-rata bisa menjual 75-100 kg/per hari. Jumlah itu tidak banyak mengalami perubahan dan konsumennya pun cenderung stabil.
"Ngapain mogok, wong jualannya juga stabil kok. Yang beli juga biasa saja, tidak ada penurunan", tambahnya.
Sementara itu, Kepala Disperindagkop Pemkab Bantul, Sulistiyanto memastikan, stok daging di Bantul dan DIY aman dan tidak akan bergejolak.
"Kita sudah berkoordinasi dengan pedagang daging sapi di Segoroyoso sebagai pemasok 40 persen kebutuhan di Yogya dan mereka juga memastikan tidak akan mogok," katanya.
(dnl/dnl)











































