Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago, China sudah punya pengalaman membangun 17.000 km jaringan kereta, sekitar 9.000 km di antaranya adalah high-speed railways (HRS) atau high-speed train (HST).
Perwakilan dari China, yaitu Menteri Pembangunan Nasional dan Reformasi Republik Rakyat China Xu Shaoshi sudah bertemu Andrinof dan menyampaikan proposal proyek kereta cepat tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China juga mengaku sanggup menyelesaikan proyek bergengsi ini dalam waktu 3 tahun, dimulai pada September 2015 dan rampung pada 2018.
"Tawaran baru sanggup memulai pekerjaan itu di September dan selesai dalam 3 tahun," kata Andrinof.
Cepatnya pembangunan yang ditawarkan oleh China bukan tanpa sebab. Trayek sepanjang 150 km mayoritas dibangun pada jalur layang sehingga dapat meminimalkan pembebasan lahan.
Belum lagi, pengalaman China yang telah teruji dalam pembangunan jalur kereta cepat di dalam negerinya.
Sedangkan, Jepang sebagai pesaing China dalam proyek kereta cepat belum memastikan untuk memulai proyek seperti komitmen China.
"Jepang saya belum dengar lagi. Belum disebut kapan," sebutnya.
Bappenas, ujar Andrinof, dalam 2 minggu ke depan akan melakukan beauty contest atau penilaian proposal kereta cepat yang ditawarkan oleh China dan Jepang. Penilaian juga akan melibatkan pihak ketiga untuk memberi masukan.
"Dalam dua minggu, bisa lebih cepat. ini saya udah perintahkan untuk me-review," ujarnya.
(feb/ang)










































