"Kita minta kepada semua feedloter untuk mengeluarkan sapi jangan disimpan kalau tidak dikeluarkan itu ganggu roda ekonomi nasional kita. Ini harus kita bicarakan dengan mereka," katanya usai ratas di Istana, Selasa (11/8/2015).
Gobel menegaskan, bagi feedloter yang membandel maka ada sanksi dari pemerintah karena mereka melanggar undang-undang pangan dan perdagangan soal praktik penimbunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gobel mengatakan, ke depan Bulog akan menjadi pemain utama daging sapi di dalam negeri. Bulog dan feedloter bisa melakukan kerjasama atau bermitra dengan feedloter.
"Supaya mereka melakukan negosisasi ke Australia, jangka pendek kita keluarkan izin impor kita sudah keluaarkan izin impor 50 ribu sapi kuartal III. Pertama 50 ribu sudah dikeluarkan," katanya.
Sebanyak 35 perusahaan penggemukan sapi (feedloter) di bawah Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) mengatur atau mengendalikan pasokan sapi ke rumah potong hewan (RPH) sehingga berdampak pada pasokan dan harga daging di pasar.
Mereka sengaja membatasi pasokan ke RPH karena alokasi impor triwulan III-2015 hanya 50.000 ekor sapi bakalan. Padahal pada triwulan II-2015 mencapai 200.000 ekor sapi bakalan.
Direktur Eksekutif Apfindo Joni Liano mengatakan, konsekuensinya alokasi impor yang turun drastis membuat para anggotanya mengendalikan pasokan ke RPH. Tujuannya harga stok yang ada saat ini 140.000 ekor ditambah 50.000 ekor bisa tersedia sampai Desember 2015.
Menurut Joni, bila mengelontorkan kebutuhan sapi bakalan untuk Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat sebanyak 60.000 ekor per bulan, maka stok yang ada hanya cukup untuk Agustus-Oktober 2015. Artinya ada kekosongan stok pada November dan Desember 2015.
"Anggota kami merestrukturisasi penjualannya, karena stok menipis. Mengatur suplai agar stok sampai Desember, sebab kalau November-Desember nggak ada itu bisa ada PHK pegawai," katanya.
(hen/rrd)











































