90% Sapi Impor Terserap Hanya di Jabodetabek

90% Sapi Impor Terserap Hanya di Jabodetabek

Lani Pujiastuti - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2015 10:50 WIB
90% Sapi Impor Terserap Hanya di Jabodetabek
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kebutuhan daging sapi impor di Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten bergantung dari sapi dan daging beku impor. Ketiga wilayah ini biasa disebut sebagai sentra konsumsi, 90% sapi impor terserap di tiga wilayah tersebut.

Sehingga gejolak harga dan pasokan daging sapi akibat perusahaan penggemukan sapi (feedloter) swasta menahan stok sapi mereka, paling dirasakan di ketiga wilayah tersebut. Kelangkaan terjadi karena pedagang mogok jualan, akibat harga daging sapi yang mahal hingga Rp 130.000/kg.

Kementan mencatat sapi impor hanya mengambil porsi sebesar 15-20% dari total populasi ternak sapi nasional. Impor sapi indukan, bakalan maupun sapi potong tahun 2014 mencapai 2,7 juta ekor, sedangkan populasi sapi menurut sensus ternak 2013 tercatat 12,3 juta ekor. Tahun lalu total kebutuhan sapi di dalam negeri impor maupun lokal mencapai 3,65 juta ekor setara 630.000 ton daging lebih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlah populasi tentu bertambah pada 2014. Asumsinya kita impor 15% dari total populasi," jelas Staf Ahli Mentan Bidang Investasi Pertanian, Syukur Irwantoro kepada detikFinance, Selasa (11/8/2015).

Data Buku Statistik Peternakan 2014 mencatat pemasukan daging sapi hanya untuk DKI Jakarta tahun 2012 mencapai 160.881 ton, kemudian pada 2013 mencapai 146.549 ton, lalu pada 2014 sebesar 151.465 ton.

"Sebetulnya 90% impor terserap hanya untuk memenuhi kebutuhan di 3 provinsi yaitu Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta khususnya Jabodetabek dan Banten dan letak feedloter ada di sekitar wilayah itu, paling jauh di Lampung," ungkap Syukur.

Menurutnya, harga daging sapi di daerah belum tentu tinggi. Justru, daging sapi lokal sulit terserap di 3 provinsi tersebut.

"Tidak ada feedloter besar-besar di daerah. Terpusat di 3 provinsi terdapatnya konsumen dan Lampung saja," tutur Syukur.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads