"Status tinggi muka air waduk per 12 Agustus 2015 sebanyak 18 waduk berstatus normal, 55 waduk di bawah rencana dan 18 waduk berstatus kering," papar Basuki, dalam rapat yang digelar di Auditorium PUPR, Kabayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2015).
Luas lahan pertanian irigasi (bukan tadah hujan) ada 7,14 juta hektar. Lahan pertanian yang kekeringan dengan irigasi bersumber dari waduk seluas 548 hektar (0,06% dari total 859.115 hektar lahan sawah irigasi dari waduk).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PU upayakan mendatangkan pompa-pompa, lalu embung yang masih ada air dipompa dan buat sumur bor," jelas Basuki.
Dilihat dari kondisi waduk terbesar yaitu Kedung Ombo, menurut Basuki, ketersediaan air waduk jauh lebih baik dari keadaan terburuk yaitu tahun 2003.
"Dua minggu lalu saya cek, tinggi muka air waduk Kedung Ombo masih 86-87 meter, sedangkan kondisi 2003 tinggi muka air hanya 73-74 meter, bahkan lebih rendah dari tahun 1997," ungkap Basuki. Waduk Kedung Ombo mengairi 61.444 hektar lahan sawah.
"Hasil kunjungan saya melihat ada daerah irigasi Dumpil berada di luar jangkauan Kedung Ombo, maka saya rencakanan bangun embung Coyo dan Tirto," jelas Basuki.
Setiap jaringan irigasi pasti punya rencana pola tanam oleh panitia irigasi. Hal tersebut ditekankan Basuki agar antisipasi kekeringan 2016 bisa lebih baik.
Basuki menyampaikan, ada tambahan rencana pembangunan di tahun 2015 yaitu rencana pembangunan suplesi Dumpil, Kabupaten Grobogan, serta mempercepat pembebasan lahan untuk embung Coyo dan Tirto. "Tahun 2016 rencana embung Coyo dan Tirto mulai dibangun," tambah Basuki.
"Tidak perlu panik dengan El-Nino, karena berulang. Namun kita tetap perlu waspada. Terutama lahan pertanian yang sedang mengupayakan swasembada pangan, irigasi harus diperbaiki untuk menjaga ketersediaan air lahan sawah," tutup Basuki.
(rrd/rrd)










































