Menteri Rini Jelaskan Soal Pesawat Garuda ke DPR

Menteri Rini Jelaskan Soal Pesawat Garuda ke DPR

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 20 Agu 2015 23:49 WIB
Menteri Rini Jelaskan Soal Pesawat Garuda ke DPR
Jakarta -

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menyebut maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memiliki beberapa rencana pengadaan pesawat berbadan lebar. Hal ini dalam rangka menggantikan armada-armada lama yang dimiliki perseroan.

Demikian disampaikan Menteri Rini dalam rapat kerja dengan Komisi VI soal anggaran, di Gedung DPR, Kamis (20/8/2015)

Rini mengatakan program pengadaan pesawat ini bagian dari Garuda sebagai sebuah perusahaan publik. Rini mengatakan Garuda ada rencana melakukan pemesanan pesawat namun belum ada komitmen yang sudah tetap.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Garuda ini punya fleet 23, dari 23 itu 5 tahun mendatang lease-nya akan habis. Garuda Indonesia sekarang punya 33 wide body, 22 akan habis dalam 5-10 tahun lease-nya sehingga kita harus mulai memikirkan penggantinya," kata Rini setelah mendapat pertanyaan dari anggota DPR.

Ia mengatakan proses memesana pesawat membutuhkan waktu 3-5 tahun karena ada daftar waktu tunggu dari pabrikan pesawat.

"Ini yang perlu dimengerti di dunia penerbangan. Sekarang ini masih dalam pembicaraan. Dengan harapan mereka (pabrik pesawat) mencatat kita kemungkinan ada order sehingga kalau kita order ada di atas dalam wait list," katanya.

Rini sebelumnya menjelaskan Garuda belum memutuskan untuk membeli atau menyewa pesawat berbadan lebar buatan Boeing atau Airbus. Garuda memang telah menyatakan minat dalam bentuk Letter of Intent (LOI). Namun di dalam LOI, Garuda belum memutuskan memilih salah satu jenis pesawat.

Garuda membutuhkan pesawat berbadan lebar atau wide body seperti jenis Airbus 350 XWB atau Boeing 787 Dreamliners. Untuk memperkuat rute penerbangan umrah dan memperkuat penerbangan ke China. Untuk penerbangan ke China, Garuda telah mengantongi izin terbang ke 10 kota di negeri tirai bambu itu.

Rini menyebut ekspansi ke China sejalan dengan upaya Pemerintah Indonesia mendorong angka kunjungan wisata antar kedua negara.

Pihak Garuda juga sudah menegaskan kebutuhan pesawat berbadan lebar Boeing atau Airbus belum dipastikan.

Beberapa waktu lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyampaikan soal sindirannya terkait rencana PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membeli 30 pesawat tipe Airbus 350 XWB.

Rizal sempat meminta rencana pengadaan pesawat berbadan lebar dibatalkan. Menurut Rizal, permintaan ini telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Rizal menilai pesawat A350 XWB hanya cocok untuk penerbangan internasional jarak jauh. Namun, menurutnya, rata-rata tingkat isian (load factor) penumpang pada penerbangan internasional jarak jauh Garuda hanya 30% atau tidak pernah penuh. Akibatnya rute internasional Garuda tidak menguntungkan secara bisnis.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads