Sektor usaha adalah salah satu yang paling terkena dampak dari melemahnya rupiah. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, pengusaha harus pintar-pintar menerapkan strategi bisnis agar tak mengalami kerugian besar, atau bahkan hingga bangkrut.
"Kalau situasi kayak gini, pengusaha harus menyesuaikan biaya dengan pendapatan," kata Hariyadi saat dihubungi detikFinance, Rabu (26/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu pengusaha harus melakukan efisiensi, yang dalam hal ini termasuk pengurangan kapasitas, pengurangan biaya, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Yang paling kita khawatirkan itu pengusaha kolaps. Dampaknya bisa ke mana-mana, nggak bisa bayar utang, dan segala macam," tuturnya.
Kemudian, Hariyadi berpesan agar pengusaha berhati-hati untuk tidak ceroboh melakukan ekspansi. Sebaiknya, menurut Hariyadi, dalam kondisi ini Pengusaha fokus kepada efisiensi hingga keadaan ekonomi membaik.
"Harus segera menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Harus stop ekspansi dalam kondisi bahaya," katanya.
Selain itu, bentuk efisiensi lainnya adalah dengan mengurangi beban utang. Apalagi dalam bentuk dolar.Karena menurutnya, tak ada yang bisa memperkirakan kapan dolar akan terus menguat seperti sekarang ini.
"Kalau dalam portofolio kita ratio utang cukup besar, terpaksa kita harus ada upaya mengurangi beban daripada utang itu Harus kita lakukan. Karena ini situasinya tidak tahu akan berapa lama. Apakah akan rebound, atau bagaimana," tutupnya
(zul/ang)










































