"Kita pakai teknologinya namanya ultra super critical. Di Jepang, teknologi ini yang punya J-Power yang sekarang juga menjadi salah satu konsorsium di PT Bimasena Power Indonesia (BPI) ini," kata Direktur Utama BPI Mohammad Effendi ditemui di lokasi acara, di Batang, Jumat (28/8/2015).
Ia mengatakan ada dua keunggulan utama dari teknologi ini dibandingkan dengan tenknologi pembangkitan yang selama ini sudah diterapkan di Indonesia. Pertama adalah konsumsi batubara yang lebih minim ketimbang teknologi terdahulu yakni teknologi super critical.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunggulan kedua, adalah emisi atau limbah sisa pembakaran yang lebih sedikit. Sehingga bagi lingkungan, teknologi ini jelas lebih aman dan lebih ramah lingkungan.
"Teknologi ini mampu menghasilkan panas tinggi. Komponennya pun mampu menahan panas yang sangat tinggi beda dengan yang lain yang batas panasnya lebih rendah dari teknologi kita. Karena batu bara ini dibakar dalam panas tinggi sehingga pembakarannya sempurna dan sisa pembakarannya itu lebih sedikit," katanya.
Diharapkan proses pembangunan bisa cepat dilakukan dan dapat lebih cepat mengaliri listrik Pulau Jawa dan sekitarnya. Pada 2018, Jawa-Bali terancam mengalami krisis listrik bila tak ada tambahan pembangkit baru.
PLTU ini dibangun dan dikelola oleh PT Bimasena Power Indonesia yang merupakan perusahaan patungan dari konsorsium J-Power, Itochu dan Adaro.
Kebutuhan dana investasi untuk membangun PLTU yang berdiri di atas lahan 226 hektar yang melingkupi 3 desa yakni Ujungnegoro, Karanggeneng dan Ponowareng ini ditaksir mencapai US$ 4 miliar atau Rp 56 triliun (Kurs Rp 14.000/US$)
(dna/hen)










































