Ekonomi Lesu, Ini 4 Strategi Ritel Agar Tetap Bertahan

Ekonomi Lesu, Ini 4 Strategi Ritel Agar Tetap Bertahan

Angga Aliya - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2015 16:10 WIB
Ekonomi Lesu, Ini 4 Strategi Ritel Agar Tetap Bertahan
Jakarta - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) menyiapkan beberapa strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnisnya di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang juga menyerang industri ritel di tahun ini.

Presiden Direktur Alfamart, Anggara Hans Prawira mengatakan, untuk menghadapi pelemahan daya beli, perusahaan menerapkan beberapa strategi.

Antara lain ada 4 strategi dengan menambah jumlah toko, memanfaatkan teknologi informasi, mengoptimalkan lini bisnis di luar negeri dan pilihan terakhir adalah menaikkan harga jual ke konsumen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Opsi terakhir dilakukan ketika supplier atau pemasok menaikkan harga ke Alfamart. Mau tidak mau, kami juga menaikkan harga jual ke konsumen. Biasanya di kisaran 4 hingga 10%," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2015).

Meskipun produk yang dipasarkan di toko Alfamart merupakan produk lokal, namun beberapa diantaranya menggunakan bahan baku impor. Akibatnya, ikut terkena imbasnya pada saat rupiah melemah.

Hans mengakui, opsi menaikkan harga bisa menurunkan daya beli konsumen yang berujung pada melambatnya pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.

Namun, agar roda bisnis tetap berjalan Alfamart memanfaatkan perangkat teknologi, seperti tablet. Tujuannya, guna mengefisiensikan penggunaan kertas dalam setiap laporan transaksi bisnis.

"Tak hanya itu, perusahaan ritel ini juga terus menambah toko untuk meningkatkan volume penjualan barang. β€œTargetnya secara nasional, sekitar 1.200 toko baru sepanjang 2015," kata Hans.

Ekonomi yang lesu juga tidak membuat perusahaan menghentikan ekspansi toko di luar negeri. Hans menyebut, pihaknya akan membuka 100 toko Alfamart di Filipina pada semester II/2015.

β€œHingga semester pertama, perusahaan telah membuka 60 gerai Alfamart di Filipina,” ujarnya.

Dengan kehadiran toko Alfamart di luar negeri, Alfamart berharap bisa menggenjot ekspor produk-produk lokal ke luar negeri. Rupiah yang melemah diharapkan bisa membuat harga produk ekspor ini bersaing.

Hans menambahkan, bahwa kondisi perekonomian saat ini adalah tantangan bagi peritel. Karena itu, perusahaan tidak mematok target yang muluk untuk tahun ini.

β€œTarget pertumbuhan kami hanya sekitar 6 hingga 10%,” tutur Hans.

Hans juga menegaskan, bahwa untuk menggairahkan perekonomian nasional, tidak cukup hanya dengan mengandalkan festive season, yakni momen Ramadhan dan Lebaran. Peritel sangat menunggu belanja pemerintah (government spending).

β€œSaya berharap anggaran belanja pemerintah segera digulirkan agar mendongkrak daya beli. Proyek infrastruktur yang belum dijalankan pemerintah, misalnya, bisa menstimulus daya beli masyarakat,” tandasnya.

Salah satu pemasok peritel, yakni Unilever, dikabarkan mulai menaikkan harga jual sejumlah produknya dengan rata-rata 1%, per Agustus 2015. Menurut KDB Daewoo, manajemen Unilever, dalam wawancara sebelumnya, ada tiga strategi utama untuk menghadapi tantangan tahun ini.

Pertama, meningkatkan marjin. Contohnya melalui promosi penjualan. Kedua, memperkuat jaringan distribusi dengan menambah fasilitas di area yang sudah dikuasai. Ketiga, meluncurkan produk baru untuk mendongkrak marjin keuntungan.

(hen/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads