Mendapat kritikan tersebut, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono memberikan penjelasan. β"Rembang-Juana, Kudus-Semarang. Daerah itu tanah lembek. Tanah dasarnya tidak cukup baik. Kiri kanannya tidak ada saluran, mungkin lebih baik kalau dibeton," jelas Basuki dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi V di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2015).
Lebih lanjut dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Bina Marga, Hediyanto W Husaini mengatakan, struktur tanah di lokasi tersebut memang sering terendam banjir dari Kali Juana.β Hal ini menyebabkan jalan yang masih hanya berlapis aspal jadi mudah rusak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekerjaan ini justru dimaksudkan untuk meminimalisir kerusakan dan menambah panjang umur jalan. "Makanya kita lakukan pembentukan rigid.β Kami tidak ingin publik menjadi kecewa karena jalannya mudah rusak," tegas dia.
Namun demikian, saat ini sudah ada jalan tol Cikopo-Palimanan yang sudah beroperasi. Hal ini akan mengurangi volume kendaraan yang ada di jalan Pantura. Dengan demikian bisa mulai dilakukan pekerjaan-pekerjaan besar pembangunan jalan yang lebih awet.
Selain itu, karena beban jalan semakin berkurang, maka biaya perawatan jalur Pantura akan semakin kecil dan bisa dialihkan untuk pekerjaan infrastruktur lainnya.
"Tadinya kan, kalau kita ingin bangun jalan yang paten sekalian sulit, karena ada pekerjaan sedikit saja pasti macet, karena jalan Pantura sempit dan yang lewat banyak. Tapi mulai sekarang, pekerjaan yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan, bisa kita kerjakan. Jadi jalan lebih tahan lama dan biaya perawatan lebih sedikit. Mudah-mudahan ini bisa mengurangi biaya perawatan Pantura," tukas dia.
(dnl/dnl)











































