Rizal mengatakan, pada zaman Hindia Belanda, ada layanan kereta pelabuhan yang bisa masuk ke kawasan peti kemas di dalam pelabuhan. Namun selama bertahun-tahun, layanan kereta di pelabuhan sudah 'mati'. Padahal dengan adanya rel kereta barang maka bisa menekan biaya logistik dan menekan dwell time.
"Setelah kami periksa ternyata. Zaman Pelindo ini rel ditutup pakai aspal sehingga nggak bisa dipakai. Kereta barang tidak bisa masuk. Besok kita akan ke Tanjung Priok, kita akan bawa ekskavator jalan rel yang ditutup zaman Belanda akan kita bongkar," tegas Rizal Ramli dengan wajah serius saat rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) di DPR, Rabu (9/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau ini bisa, maka kereta barang bisa masuk mungkin trucking akan rugi sedikit. Pelindo akan rugi sedikit. Tapi untungnya untuk masyarakat lebih besar. Dwell time bisa diatasi. Perekonomian akan berjalan," katanya.
Rizal mengatakan, pihaknya sengaja memfokuskan pada pembenahan sistem logistrik di Pelabuhan Tanjung Priok karena 70% ekspor-impor nasional berasal dari pelabuhan terbesar di Indonesia ini.
"Kami turunkan rata-rata dwell time 7-8 hari jadi rata-rata 2,5 hari, dan itu sangat menolong kelancaran barang," katanya.
Seperti diketahui jaringan rel kereta api logistik/kontainer yang menghubungkan antara Pelabuhan Tanjung Priok dengan Pelabuhan Peti Kemas hingga Tempat Penampungan Khusus (TPK) Koja, Jakarta Utara telah ada. Rel ini telah lama mati dan tidak digunakan untuk pengangkutan kereta api logistik, namun masih terputus alias belum sampai ke dalam pelabuhan.
Proyek ini telah dianggarkan sejak 5 tahun lalu dan pembangunannya baru mencapai Jalan Pasoso atau sebelum masuk ke pelabuhan. Proyek ini tersisa hingga 300-500 meter lagi agar bisa masuk ke jantung Pelabuhan Tanjung Priok.
(hen/ang)











































