Tambang Emas 'Legenda' Pongkor Jadi Tempat Mengadu Nasib Gurandil

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 14 Sep 2015 11:57 WIB
ilustrasi
Bogor - Adanya kekayaan bahan tambang di suatu daerah bak madu yang mengundang lebah. Pendatang yang tak diundang pun ikut menambang.

Misalnya di Gunung Pongkor, Bogor, Jawa Barat, Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor yang dimiliki PT Antam Tbk menjadi tujuan para pencari emas ilegal dari berbagai daerah hingga melegenda.

Semenjak tiga tahun pasca commisioning atau uji coba produksi atau sejak 1997, kawasan penambangan emas Pongkor makin dilirik para penambang liar atau yang biasa disebut sebagai 'gurandil' atau penambang emas tradisional ilegal (PETI). Aktivitas mereka hingga kini terus berlangsung.

Kawasan ini ibarat gula bagi para penambang bertenda biru yang jumlahnya mencapai mencapai ribuan orang. Para gurandil ini banyak yang tewas terimbun tanah hingga kekurangan oksigen saat mencari emas di Pongkor. Berita-berita di surat kabar, kerap kali memberitakan soal para korban gurandil yang tewas.

"1997 PETI mulai masuk. Kebanyakan merupakan pendatang yang bahkan banyak datang dari Banten. Jumlahnya saat ini mungkin ribuan," jelas Bagus Purbadana, Staf Eksternal Relation UBPE Pongkor PT Antam Tbk, ditemui kantor UBPE Pongkor, pekan lalu.

Lokasi galian PETI memang berbeda dengan Antam. Sebab Antam menambang minimal 30 meter ke bawah permukaan tanah sebagai upaya konservasi lahan yang sebagian berada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Lokasi penambangan di atas permukaan tanah inilah tempat beroperasi para PETI. Mereka membuat lubang-lubang tambang secara ilegal di kawasan hutan.

"Mereka beroperasi di permukaan tanah, yang sebetulnya kandungan emasnya lebih banyak. Kami dengan tujuan konservasi hanya bisa menambang paling tidak 30 meter dari permukaan tanah," jelas Agus Setiono, Staf CSR UBPE Pongkor PT Antam.

Setiap karung yang dibawa PETI bisa berbobot 25 kg. Karung ini masih dalam bentuk tanah, belum ada proses pengolahan. Hasil tambang yang dihasilkan gurandil dijual ke penadah.

"Satu karung dibeli penadah seharga Rp 300.000. Tiap kilonya, bisa jadi 1 ons emas. Itu jauh dari hasil kita yang saat ini berkisar 7-8 gram per ton. Meski kadar dan kemurniannya tetap tidak bisa dibandingkan," kata Arif Rahmanto, Staf Corporate Secretary PT Antam yang juga warga setempat.

(hen/hen)