Kondisi ini dinilai sangat ironis, karena Indonesia memiliki pantai terpanjang nomor ke-2 di dunia setelah Kanada. Bibir pantai tersebut seharusnya bisa dioptimalkan untuk menghasilkan garam di dalam negeri.
"Kita ironisnya punya pantai ke-2 terpanjang di dunia tapi impor garam. Ini sangat ironis. Buat bangsa sebesar Indonesia," kata Direktur Utama PT Garam (Persero), Usman Perdana Kusuma, kepada detikFinance, Senin (21/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampaknya, industri kini masih mengimpor garam kualitas tinggi dari beberapa negara termasuk Australia karena garam lokal belum mampu memasok kebutuhan industri.
"Kita ini kalau untuk pangan sudah bisa, cuma memang perlu refinery," jelasnya.
Terkait dengan refinery, PT Garam (Persero) berencana membangun di Madura, Jawa Timur. Pembangunan refinery akan dibiayai dari alokasi Penyertaan Modal Negara (PMN).
"Kita belum refinery. Kita dapat PMN Rp 300 miliar cuma belum cair. Sebanyak Rp 65 miliar untuk bikin refinery dan bisa olah 70.000 garam industri per tahun. Ini lokasi di Madura," tuturnya.
(feb/dnl)
