Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTI), Gemilang Tarigan mengatakan, penurunan pengguna jasa ekspedisi angkutan truk khusus pelabuhan saja merosot hingga kisaran 50%. Beberapa perusahaan harus kehilangan armada truknya, setelah ditarik pihak leasing karena tak sanggup melunasi cicilannya.
"Sudah sekitar separuh atau 50% dari total armada kami tengah berhenti beroprasi kalau bandingkan dengan tahun lalu. Alasannya, karena permintaan lagi sepi-sepinya, ekonomi sedang melemah. Itu sangat berpengaruh ke kita," ungkap Gemilang, ditemui di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Rabu (23/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya, bahan baku industri kan dari impor, pengangkutan ini berkurang apalagi dolar menguat. Sedangkan hasil produksi yang kita angkut untuk diekspor juga kan berbahan baku impor, ini yang paling terpengaruh. Jadi ekspor turun impor turun, pengangkutan turun," tutur Gemilang.
Imbas lainnya, kata Gemilang, para pengusaha truk kini mulai melakukan perang tarif karena permintaan yang sudah susut, sementara jumlah armada truk masih banyak.
"Kami punya 24 ribu truk, berarti sekarang kita tinggal 12 ribuan yang beroperasi. Ini kan sistemnya demand-supply. Kalau demand turun supply tetap kan pasti mau tidak mau turunkan tarif buat menemukan permintaan. Nah di jasa transportasi truk ini memang tengah terjadi perang tarif, itu normal itu," ungkapnya.
Gemilang yakin, selain jasa pengangkutan pelabuhan yang sudah merosot sampai 50%, jasa angkutan truk secara umum juga terpukul. Itu khusus yang di pelabuhan saja. "Tapi di luar pelabuhan yah sama saja karena industrinya lagi melemah," tutupnya.
(dnl/dnl)










































