Curhat Pengusaha Angkutan Truk: Ekonomi Lesu, Order Turun 50%

Curhat Pengusaha Angkutan Truk: Ekonomi Lesu, Order Turun 50%

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2015 13:57 WIB
Curhat Pengusaha Angkutan Truk: Ekonomi Lesu, Order Turun 50%
Jakarta - Merosotnya volume ekspor impor dalam beberapa bulan terakhir akibat lesunya perekonomian, ikut memukul para pengusaha logistik truk di Indonesia. Banyak dari perusahaan-perusahaan ekspedisi mengandangkan sebagian besar truknya, bahkan beberapa di antaranya gulung tikar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTI), Gemilang Tarigan mengatakan, penurunan pengguna jasa ekspedisi angkutan truk khusus pelabuhan saja merosot hingga kisaran 50%. Beberapa perusahaan harus kehilangan armada truknya, setelah ditarik pihak leasing karena tak sanggup melunasi cicilannya.

"Sudah sekitar separuh atau 50% dari total armada kami tengah berhenti beroprasi kalau bandingkan dengan tahun lalu. Alasannya, karena permintaan lagi sepi-sepinya, ekonomi sedang melemah. Itu sangat berpengaruh ke kita," ungkap Gemilang, ditemui di Menara Kadin, Kuningan, Jakarta, Rabu (23/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, setelah melambatnya perekonomian dalam hampir satu tahun terakhir, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ikut menambah beban para pengusaha truk.

"Biasanya, bahan baku industri kan dari impor, pengangkutan ini berkurang apalagi dolar menguat. Sedangkan hasil produksi yang kita angkut untuk diekspor juga kan berbahan baku impor, ini yang paling terpengaruh. Jadi ekspor turun impor turun, pengangkutan turun," tutur Gemilang.

Imbas lainnya, kata Gemilang, para pengusaha truk kini mulai melakukan perang tarif karena permintaan yang sudah susut, sementara jumlah armada truk masih banyak.

"Kami punya 24 ribu truk, berarti sekarang kita tinggal 12 ribuan yang beroperasi. Ini kan sistemnya demand-supply. Kalau demand turun supply tetap kan pasti mau tidak mau turunkan tarif buat menemukan permintaan. Nah di jasa transportasi truk ini memang tengah terjadi perang tarif, itu normal itu," ungkapnya.

Gemilang yakin, selain jasa pengangkutan pelabuhan yang sudah merosot sampai 50%, jasa angkutan truk secara umum juga terpukul. Itu khusus yang di pelabuhan saja. "Tapi di luar pelabuhan yah sama saja karena industrinya lagi melemah," tutupnya.

(dnl/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads