Para pengusaha tidak lagi bisa bermain biasa-biasa saja, tapi sudah harus mulai menantang bisnis yang lebih besar. Ibarat tinju, pebisnis baru harus berani menantang juara dunia kalau mau berhasil.
Meskipun pada akhirnya mungkin kalah dari si juara dunia, tapi setidaknya Anda sudah mengeluarkan sekuat tenaga untuk bisa bersaing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa bulan terakhir ini banyak perubahan di dunia, di politik, ekonomi, dan lain-lain. Kesempatan kerja makin kecil, banyak pengangguran. Itu lah kenapa sangat penting untuk jadi wirausaha," katanya di acara Telstra Vantage 2015 di Melbourne Convention and Exhibition Centre, Melbourne, Australia, Rabu (23/9/2015).
Menurut mantan pemilik Wizard Home Loans ini, wirausaha yang akan menggerakan dunia ke depan, terutama dengan inovasi yang bisa menciptakan stabilitas.
"Banyak negara bergantung harga komoditas dan properti, seperti Australia salah satunya. Jangan lagi terlena. Biarkan para pengusaha berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan bisnis dan industri jangka panjang," ujar host The Apprentice Australia ini.
Maka dari itu, para pebisnis baru jangan hanya puas menjual barang dan jasa saja, tapi juga harus berusaha menjadi yang terdepan dalam bidangnya. Menurut Bouris, ada empat hal yang harus diterapkan oleh para pebisnis supaya bisa jadi juara dunia.
"Ada empat elemen yang sangat penting. Tidak cukup pebisnis punya ide bagus. Dengan elemen ini ide bagus bisa diubah menjadi ide yang berharga dan bisa dijual," ungkapnya.
Pertama, pebisnis harus mengerti apa yang diinginkan pelanggan. Artinya, jangan menjual apa yang Anda suka saja dan memaksa orang lain jadi ikut suka.
"Sekarang ini pasar sangat dinamis. Anda harus tahu bergerak di bisnis apa. Bisnis yang bagus adalah yang bisa memenuhi harapan dan mimpi pelanggan," katanya.
Ia memberi contoh Uber Taxi. Mengapa taksi digital bisa populer?
"Karena mereka bisa mengikuti tren masa kini, tahu apa yang diinginkan pelanggan. Pelanggan ingin taksi yang cepat, murah, dan bisa disebarluaskan melalui media sosial. Ini empati," ujarnya.
Kedua, Ia menyebut dalam masa penuh volatilitas seperti sekarang ini, sehingga jangan mudah terbawa emosi. Fluktuasi akan selalu ada, namun jangan pernah terbawa arus.
"Jika Anda pebisnis, Anda harus bisa kendalikan volatilitas. Bertahan dengan cara kendalikan otak dalam menerima proses volatilitas itu. Kita diam dulu. Kalau sudah tenang baru ambil keputusan," jelasnya.
Pengambilan keputusan harus pakai akal sehat dan rasional. Jangan dalam keadaan panik dan terburu-buru. Pelajari situasinya secara mendalam sebelum mengambil keputusan.
"Pebisnis incumbent (pemimpin industri) akan terus menyerang sampai Anda sebagai si pebisnis baru menyerah. Kalau Anda tidak menyerah, nanti dibeli sama mereka, Itulah prosesnya zaman sekarang. Yang bisa jatuhkan incumbent atau disebut sebagai disruptor (penantang) akan menjadi incumbent yang baru. Memang begini adanya," ucapnya.
Ketiga, Anda harus membawa bisnis baru sejauh mungkin, jangan puas hanya berjualan barang dan jasa setelah itu hanya menjadi nomor kesekian dalam industri. Supaya bisnis bisa bertahan, Anda harus accountable.
Caranya, dengan mengenal orang-orang yang tepat. Orang-orang ini yang akan menilai kinerja dan kredibilitas Anda.
"Anda harus membuat diri Anda layak diperhatikan oleh semua orang. Kita bicara kesempatan akses dan kemungkinan dalam berbisnis," tambahnya.
Keempat ialah kita harus melakukan hal yang membosankan. Berbisnis yang sukses adalah yang mampu menjalankan hal yang sama berulang-ulang selama bertahun-tahun sampai bisa dikenal oleh pelanggan.
Membosankan memang, namun dari itu cari orang alias karyawan yang bisa melakukan hal-hal membosankan ini untuk kita.
"Tapi jangan asal rekrut. Tapi pilih orang-orang yang percaya dengan mimpi Anda. Biar mereka lakukan hal-hal yang membosankan," jelasnya.
Ia mengatakan, bisnis itu tidak bisa seperti sihir yang langsung sukses dengan lambaian tongkat. Bisnis itu harus berkembang, dan itu butuh waktu.
"Bikin gerakan, bikin iklan, bikin promosi, bikin momentum. Lakukan hal-hal kecil. Anda bisa menjadi penantang bisnis berikutnya," tutupnya.
(ang/feb)











































