Penjualan hewan kurban, sapi dan kambing, di DKI Jakarta terkena dampak perlambatan ekonomi yang sedang terjadi. Hal ini diamini oleh pedagang hewan kurban di daerah Setia Budi, Jakarta Selatan.
Jumino, penjual hewan kurban, mengaku hiruk-pikuk bisnis hewan kurban saat ini relatif lebih sepi dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan terjadi untuk penjualan sapi dan kambing.
"Cukup banyak penurunan, karena yang biasanya ada yang beli 7 ekor, sekarang nggak beli sama sekali. Dan memang di Setiabudi, jumlah kurban itu menurun, yang biasanya beli 10 ekor sapi di satu Masjid sekarang cuma 3 ekor," kata Jumino kepada detikFinance di Jakarta Selatan, Kamis (24/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk sapi berat 350 kg dengan harga Rp 19 juta sampai dengan 267 kg dengan harga Rp 15-14 juta harganya turun karena pembeli nggak ada," jelasnya.
Hal senada dibenarkan oleh pedagang lain bernama Ama. Ama membenarkan adanya penurunan penjualan hewan kurban di lapaknya. Kondisi ini, ujar Ama, juga diperparah dengan harga hewan yang dijual mengalami kenaikan sekitar 30% sampai 50%.
Sebagai contoh, kambing yang tahun lalu dijual Rp 1.100.000 sampai Rp 1.500.000 per ekor kini dibandrol Rp 2.000.000 per ekor sedangkan sapi dijual dari harga Rp 13.000.000 menjadi Rp 16.000.000.
"Sudah kelihatan kalau yang biasanya patungan untuk beli sapi dan kambing jadi jarang kelihatan sekarang," ujarnya.
Akibatnya, Ama mengaku hewan kurban kualitas super saat ini masih tersisa. Umumnya, para pembeli memilih hewan kurban berkualitas biasa yang berharga lebih murah.
"Bahkan yang paling banyak sekarang adalah tipe C-D (harga rendah). Untuk kelas di atas itu, masih banyak yang tersisa," tuturnya.
(feb/mkl)











































