Misalnya Endah, seorang pedagang batik di pusat perbelanjaan tersebut mengaku tidak pernah penjualannya sesepi ini dalam jangka waktu cukup lama. Ia bingung dan bertanya-tanya apakah masyarakat mengerem belanjanya termasuk belanja batik.
“Sekarang terasa penjualan sepi. Nggak tahu kenapa. Apa mungkin faktor kondisi ekonomi sekarang jadi masyarakat batasin belanja ya?” ujar Endah, di kios Batik Cirebon di Thamrin City kepada detikFinance, pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Rasa-rasanya mulai Desember sudah turun. Beberapa hari sebelum Lebaran sempat naik sedikit. Abis itu sepi banget sampai sekarang,” ungkapnya.
Kondisi ekonomi yang lesu menurunkan omzetnya cukup drastis. “Omzetnya lagi turun banget. Kalau lagi ramai bisa minimal Rp 20 juta per bulan. Sehari bisa laku sampai Rp 2-3 juta. Bulan-bulan terakhir ini nggak pernah sampai segitu. Rasanya turun banget. Sekarang lakunya hanya 1-3 potong yang murah-murah,” keluhnya.
Sudah tiga tahun Endah membuka kios Batik Cirebon di Thamrin City. Semua batik yang dijualnya asli khas Cirebon, usaha turun-temurun tiga generasi milik keluarga suaminya.
“Tiga tahun sudah buka kios di sini. Semua batik asli Cirebon. Ini usaha keluarga dari kakek-nenek suami saya. Kami buka juga di Pasar Batik Cirebon,” terang Endah.
Kain batik maupun pakaian jadi yang ditawarkan kiosnya terbilang lengkap dengan motif beragam. Motif paling terkenal dari Cirebon yaitu mega mendung sampai motif singa barong ada di kiosnya. Suaminya pun kreatif membatik beragam motif yang unik dan menjadi pembeda dengan penjual batik Cirebon lainnya.
“Lengkap ada di sini. Ada motif mega mendung yang paling terkenal dari Cirebon. Ada motif singa barong. Di Cirebon punya 6 pembatik,” imbuh Endah.
Ia pun kemudian menunjuk selembar kain bermotif ondel-ondel Betawi dengan warna cerah. Kain itu merupakan hasil karya suaminya. “Ini suami saya yang membatik. Motifnya ondel-ondel Betawi. Lagi banyak peminatnya motif ondel-ondel warna cerah-cerah jadi kita buat,” katanya.
Di depan kiosnya pun ada pakaian jadi bermotif ondel-ondel yang dikenakan ke manekin. “Itu harga kain ondel-ondel Rp 250.000. Sudah jadi baju Rp 350.000,” kata Endah.
Endah membanderol kain-kain batiknya dari mulai Rp 75.000 sampai Rp 1,8 juta. “Batik harga Rp 1,8 juta itu batik tulis halus yang mahal. Kalau harga Rp 75.000 itu batik cap. Di sini paling banyak dicari batik tulis. Kita malah nggak buat batik printing,” jelas Endah.
Pembelinya berbagai macam kalangan dari bawah hingga atas. Ia pun melayani jasa menjahit kain batik menjadi pakaian.
“Kalangan tertentu yang ngerti batik akan cari yang batik tulis. Kalau kalangan menengah ke bawah cari batik yang cap-cap. Artis dan pejabat juga ada yang beli ke sini. Kalau mau jahit kain minta model kayak apa juga kita bisa,” terang Endah.
(ang/ang)











































