Hari Batik Nasional

Harganya Lebih Murah, Batik Printing Paling Dicari Konsumen

Lani Pujiastuti - detikFinance
Jumat, 02 Okt 2015 12:00 WIB
Jakarta - Kain maupun pakaian batik yang beredar di pasaran diproduksi dengan bermacam teknik. Ada tiga teknik yang umumnya dikenal yaitu batik tulis, cap dan printing.

Teknik membuat batik dengan cara printing atau memproduksi menggunakan mesin mulai banyak dilakukan pengusaha. Utamanya pengusaha batik yang memproduksi pakaian jadi untuk dijual grosiran.

Cara printing untuk memproduksi batik mulai banyak dipilih oleh pengusaha untuk memproduksi satu corak kain batik dalam jumlah besar. Contohnya untuk seragam sekolah, kantor pemerintahan hingga perusahaan. Produksi massal ini memerlukan hasil yang seragam dalam waktu relatif singkat.

Di antara ketiga teknik produksi, batik printing menjadi yang paling tumbuh saat ini. Alasannya karena produksi massal maka harganya murah, sehingga banyak dicari konsumen. Harga batik printing bisa dijual dalam hitungan puluhan ribu rupiah, sedangkan batik cap apalagi tulis bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

"Paling banyak tumbuh justru yang print karena masyarakat ingin pakai batik dengan harga yang relatif murah. Apalagi untuk produksi massal. Kalau cap dan tulis kan lebih mahal,” jelas Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, kepada detikFinance, pekan lalu.

Para pengusaha maupun pedagang pun mengungkapkan hal senada. Permintaan masyarakat akan batik printing meningkat. Marwan, salah seorang pedagang batik khas Madura mengatakan di tokonya di Thamrin City menjual baik batik tulis, cap maupun print. Paling laku saat ini batik print.

"Lebih laku batik yang print. Bahannya sama-sama katun. Tapi harganya bisa lebih murah. Biasanya yang print ini batik buat seragaman. Printing kan bisa langsung bikin banyak," jelas Marwan.

Meskipun paling laris, Marwan mengakui kualitas hasil jadi kain batik printing paling rendah dibanding batik cap, apalagi batik tulis.

“Batik printing kualitas warnanya agak kurang. Paling bagus nyerap warna ya batik tulis. Memang batik printing menang dari segi kerapihan. Bisa lebih rapi karea buatan mesin pabrik,” katanya.  

Di pusat batik Thamrin City, Jakarta Pusat, detikFinance menemukan ada distributor printer kain sedang membuka stan. Distributor mesin print tersebut memamerkan sebuah alat print kain beserta hasil jadinya.

Salah satu hasil jadi yang menarik perhatian adalah kain motif batik dari bahan spandek dan sebuah pakaian wanita berbahan sifon. Kain batiknya merupakan hasil cetakan dari mesin print kain tersebut.

“Mesin printing kain ini bisa untuk print kain sepanjang 110 meter dengan lebar 1,5 meter selama 15 jam. Bisa diprint di bahan sifon, satin, dan spandek. Motifnya bisa bermacam-macam termasuk batik,” jelas Dian, salah seorang pegawai.

Teknik print memang sangat sederhana dan waktunya lebih cepat dibanding cap maupun print. Selain itu, bedanya yaitu tidak perlu menggunakan canting, lilin atau malam dan tanpa perlu mencelup kain ke pewarna tekstil.

“Ada tekniknya untuk print motif berwarna ke kain pakai mesin ini, yaitu cara sublimasi. Cukup print motifnya ke kertas, lalu dipindahkan ke kain dengan cara dipanaskan. Tinta yang menempel dari kain itu tinta yang ada di kertas. Hasilnya awet ngga bakal luntur,” terang Dian.

Ia mengatakan sudah ada beberapa orang pengusaha tekstil termasuk produsen kain batik yang tertarik dan bertanya-tanya terkait mesin print kain tersebut.

“Ada beberapa yang tanya-tanya mesin ini dari pengusaha batik,” imbuhnya.

(hen/hen)