Sekretaris Umum Asosasi Pemasok Energi dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo) Eka Wahyu Kasih menyampaikan curhatan pengusaha tersebut.
"Kondisi perusahaan batu bara di seluruh Indonesia saat ini sangat sulit. Perusahaan besar saja terkena dampak, apalagi menengah dan kecil. Perusahaan batubara low rank maupun high rank sama saja. Tinggal 50% yang masih berproduksi," kata Eka usai Diskusi Energi HIPMI, di HIPMI Center, Menara Bidakara 2, Jakarta, Senin (5/10/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eka menuturkan, jumlah tersebut bisa lebih dilihat dari jumlah perusahaan yang berhenti beroperasi di Kaltim. "Di Kaltim itu (PHK) bisa lebih. Minimal 50% perusahaan batu bara di sana sudah berhenti produksi. Macet. Kondisi begitu sulit," jelasnya.
Berbagai langkah sudah ditempuh mulai dari efisiensi, restrukturisasi hingga jual saham baru.
"Pendapatan perusahaan batu bara baik besar maupun kecil turun. Harga nggak menarik dan nggak bagus sejak 4 tahun. Tidak hanya pendapatan turun, tetapi juga banyak yang sudah rugi. Itu perusahaan publik semua. Kita lakukan efisiensi, tapi harga jualnya rendah. Restrukturisasi sudah, tapi tetap berat. Terbitkan saham baru untuk menutupi kerugian, kalau masih ada yang tertarik," keluhnya.
Menurut Eka, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh para anggotanya. Produksi batu bara nasional sempat 400 juta ton sekarang turun 300 juta ton. Perusahaan besar yang menguasai 75% produksi pun saat ini kesulitan mencari pembiayaan baru.
"Mencari pembiayaan baru, bagi sebuah perusahaan batu bara saat ini sangat susah. Perbankan say sorry kalau kita datang. Efisiensi sudah dilakukan. Harga malah drop. Obligasi siapa lagi yang mau beli saham perusahaan tambang batu bara sekarang," katanya.
(hen/hen)











































