Usai pertemuan Rizal mengatakan, jalan sepanjang 20 kilometer (km) ini sudah mendapatkan dana pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Tujuan jalan tol ini dibuat adalah untuk mengurangi macetnya kota Bandung.
"Proyeknya nggak jadi-jadi karena sebagian besar tanah itu milik KL (Kementerian/Lembaga). Ada 18 KL yang memiliki tanah di sepanjang jalan itu yang sampai sekarang belum beres. Jadi hari ini dibahas soal itu," jelas Rizal di kantornya, Jakarta, Selasa (24/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada UU, bahwa tanah negara kalau tidak dipakai bisa diserahkan untuk fasilitas publik tanpa harus diganti. Tetapi seandainya perlu diganti, tentu akan dipikirkan dananya dari mana, apakah dari APBN atau sebagian dari Pemda atau tidak tertutup kemungkinan tukar guling di lokasi yang lain. Tetapi pada dasarnya kita ingin proyek tol ini bisa terlaksana bulan Januari tahun depan," papar Rizal.
Bila tahun depan bisa dimulai, maka pada 2019, jalan tol dalam kota ini sudah selesai dan bisa digunakan.
Di tempat yang sama, Ridwan mengungkapkan alasannya mendatangi Rizal Ramli. Emil, panggilan akrab Ridwan, meminta bantuan Rizal dalam hal pembebasan lahan untuk proyek tol tersebut.
"Kami rombongan Bandung dan Jabar datang untuk permohonan bantuan, karena di negeri ini kadang-kadang kerjaan tidak beres-beres karena koordinasi. Dan ini upaya menyangkut kemacetan. Ternyata pembebasan lahan ada 18 KL jadi kalau diketok pintu satu-satu oleh provinsi Jabar agak susah, dibutuhkan level Menko untuk percepatan itu," ungkap Emil.
"Bandung seperti Jakarta, punya tekanan metropolitan yang luar biasa dengan penduduk 2,5 juta, ekstra 6 juta turis setiap tahun. Jadi kalau naik mobil itu menyebabkan kemacetan yang membuat perlambatan ekonomi juga," katanya.
(dnl/ang)










































