Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, meminta Pertamina untuk fokus ke bisnis minyak dan gas (migas).
"Kenapa saya mendorong sinergi Pertamina karena bisnisnya bukan di aviasi. Pertamina bisnis utamanya di oil and gas (minyak dan gas), maka kita harus fokus," kata Rini, saat acara kerja sama Garuda Indonesia dan Pertamina dalam Sinergi Kemitraan Global, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (30/11/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Garuda Indonesia yang juga sesama BUMN, dinilai memiliki kompetensi di bidang industri aviasi.
"Garuda dan Citilink (anak usaha Garuda), makin sehat. Di 2015 sudah untung. Itu satu keberhasilan Garuda. Ke depan, Pelita Air dikerjasamakan dengan Garuda. Ini beri keuntungan kedua pihak. Operasional cost makin efisien karena pemanfaatan bandara makin optimum," ujarnya.
Lewat kerja sama pemanfaatan sewa Bandara Pondok Cabe saja, Pertamina bisa memperoleh pendapatan hampir Rp 40 miliar per tahun. Pendapatan ini diperoleh bila Garuda Indonesia mulai membuka rute di Bandara Pondok Cabe pada Maret 2016.
Pendapatan ini di luar penjualan avtur untuk mendukung operasional armada ATR 72-600 Garuda Indonesia. Per hari, Garuda Indonesia berencana membuka 25 rute dari Bandara Pondok Cabe ke 8 destinasi di Jawa bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Sumatera bagian selatan.
"Memang Rp 40 Miliar masih kecil. Tapi, kedua BUMN bisa sinergi marketing. Pertamina perusahaan global, bisa kerjasama pasok avtur Pertamina," jelasnya.
(feb/dnl)











































