"Kita ingin pakai karet untuk penggunaan jalan-jalan baru, dicampur di aspalnya. Pengalaman Thailand, dicampur aspal 20% harganya lebih mahal, tapi durasi usianya 40% lebih lama, Inpres target tahun ini, karena ini mendesak," kata Bachrul ditemui usai Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Kamis (3/12/2015).
Selain jalan, penggunaan karet alam juga didorong pada proyek infrastruktur lain seperti rel MRT, dock fender pelabuhan, hingga pembangunan stadion baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bachrul, Thailand dan Malaysia sudah selangkah lebih maju untuk membatasi ekspor karet, dan mengalihkannya ke konsumsi domestik untuk infrastruktur.
"Di Thailand stadion bola penggunaan karet mayoritas. Thailand bikin stadion pakai karet. Indonesia harus cari banyak lagi penggunaan infrastruktur di APBN, kita koordinasi antar kementerian. Sekarang pembahasan Inpres di tingkat Menko, kalau ditandatangani, karet buat pembuatan jalan tol baru, dam dan lainnya," kata Bachrul.
Menurutnya, penggunaan infrastruktur setidaknya akan meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri sebesar 100 ribu ton.
"Di 3 negara dengan Malaysia dan Thailand, ada 200 ribu ton tambahan setahun. Kita porsinya 100 ribu ton," tutupnya.
(hns/hns)











































