Pada Oktober lalu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan izin impor 10.000 ton daging sapi dari Selandia Baru untuk Perum Bulog. Izin tersebut diberikan agar Perum Bulog dapat menstabilkan harga daging sapi yang sampai kini masih bertengger di atas Rp 100.000/kg.
Tapi ternyata Bulog tak bisa merealisasikan seluruh izin impor yang didapat. Hingga akhir tahun ini, hanya 2.000 ton daging sapi yang bisa didatangkan Bulog dari Selandia Baru.
Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, beralasan bahwa penugasan yang diberikan pemerintah terlalu mendadak. Dalam waktu yang sempit, Bulog tak punya cukup persiapan. Padahal, Selandia Baru adalah pasar yang asing, Bulog belum mengenal dan memiliki jaringan di Negeri Kiwi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan, para pemasok di Selandia Baru agak tertutup kepada pembeli baru seperti Bulog. Mereka juga ragu dengan keseriusan Bulog untuk membeli daging sapi. Hal-hal ini membuat Bulog semakin kesulitan memperoleh daging sapi dari Selandia Baru.
"Orang Selandia Baru itu punya kultur agak tertutup, mereka juga lihat-lihat dulu ini Bulog serius atau nggak mau beli. Mereka kan sudah punya market tradisional, begitu ada pendatang baru dia lihat dulu apakah ini beli untuk jangka panjang atau sekali saja lalu hilang," tuturnya.
Bila pemerintah ingin Perum Bulog dapat merealisasikan seluruh izin yang diberikan, Djarot meminta izin impor daging sapi dari Selandia Baru diperpanjang hingga Februari 2016. Jika diperpanjang, dirinya yakin bisa membeli 10.000 ton daging sapi dari sana.
"Tapi ada pelajaran lain, saya menemukan pemasok-pemasok yang bisa dipercaya sehingga saya mohon kalau bisa izinnya diperpanjang sampai Januari-Februari. Kalau nggak diperpanjang ya nggak apa-apa, kami hanya mampu impor 2.000-an ton," tutupnya.
(hns/hns)











































