Cabai dan Bawang Merah Alami Inflasi Paling Tinggi Selama 2015

Cabai dan Bawang Merah Alami Inflasi Paling Tinggi Selama 2015

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 31 Des 2015 18:25 WIB
Cabai dan Bawang Merah Alami Inflasi Paling Tinggi Selama 2015
Michael Agustinus
Jakarta - Pemerintah mencatat beberapa komoditi pangan dengan lonjakan harga yang cukup tinggi selama 2015. Dua di antaranya adalah cabai merah dan bawang merah dengan inflasi di atas 50%, sehingga akan menjadi perhatian serius bagi pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, kedua komoditi tersebut biasanya rentan mengalami kenaikan harga ketika musim hujan. Sementara dalam kurun waktu setahun ke belakang, Indonesia mengalami musim kemarau yang cukup panjang atau biasa disebut el nino.

"Sampai dengan pertengahan tahun inflasi cabai rendah, baru bulan-bulan terakhir dia mulai meningkat agak cepat. Jadi kecenderungan cabai dan bawang naik agak tinggi pada musim libur. Kita mau ajak Kemendag (Kementerian Perdagangan) mengecek apa sih di belakang itu," ujarnya dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (31/12/2015)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Darmin juga menduga adanya keterkaitan dengan pola konsumsi masyarakat. Diketahui dua komoditi tersebut memang menjadi kebutuhan pokok sebagian dari masyarakat Indonesia.

"Ini memang ada hubungannya juga dengan pola konsumsi, masyarakat kita senang dengan cabai dan bawang segar. Ini komoditi yang perlu kita pelajari bersama Kemendag," terangnya.

Kemudian adalah telur ayam dan daging ayam. Darmin menilai penyebabnya adalah kenaikan harga pakan ternak, yaitu jagung.

"Ayam tentu saja secara umum ketergantungannya pada jagung tinggi. Tahun ini ada macam-macam penyebab sehingga harganya agak naik beberapa bulan terakhir," kata Darmin.

Untuk itu, Darmin bersama Kementerian teknis mempersiapkan berbagai langkah agar persoalan tersebut tidak kembali terulang. Di antaranya adalah dengan menyesuaikan antara data produksi dan kebutuhan konsumsi setiap kuartal. Pada kuartal I-2016, sudah disepakati impor jagung sebesar 600 ribu ton.

"Kita percaya kebutuhan impor 2016 lebih rendah, tapi kita lihat dulu kuartal 1 seperti apa. Tapi kita sepakat kuartal I, impor 600 ribu ton. Supaya jangan terjadi seperti di akhir 2015, ada upaya menahan impor sehingga pasokan kurang, harga telur dan ayam naik. Setelah melihat hasil di kuartal I baru kita hitung untuk kuartal II," terangnya.

(mkl/mkl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads