Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan indeks literasi keuangan warga Provinsi Lampung mencatatkan angka 72,3%, berada di atas rata-rata nasional yang sebesar 69,6%. Namun, indeks inklusi keuangannya baru menyentuh 90,9%, masih di bawah angka nasional sebesar 93,6%.
Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, mengatakan secara sederhana angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Lampung sudah cukup tahu, tapi belum sepenuhnya menggunakan layanan keuangan formal.
"Di sinilah trust atau kepercayaan menjadi jembatan. Ketika masyarakat paham, merasa aman, dan percaya, mereka akan lebih yakin untuk menggunakan layanan keuangan formal secara berkelanjutan dan lebih optimal," kata Farid dalam acara Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam konteks ini, menurutnya digitalisasi bisa memperbesar peluang pemanfaatan layanan keuangan yang ada. Terlebih mengingat bagaimana saat ini kepemilikan telepon genggam bahkan sudah melampaui jumlah penduduk.
"Generasi muda sangat akrab dengan mobile banking, dompet digital, fintech, dan aplikasi investasi. Ini membuat akses semakin mudah dan edukasi bisa menjangkau masyarakat dengan jauh lebih cepat," ujarnya.
Meski begitu, Farid memperingatkan tingginya penetrasi teknologi ini memicu munculnya berbagai ancaman bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang akrab dengan ekosistem digital.
Sebut saja risiko pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online, hingga kebiasaan belanja impulsif akibat dorongan perilaku Fear of Missing Out (FOMO), You Only Live Once (YOLO), serta fitur paylater.
"Muncul berbagai jebakan keuangan. Ada pinjol ilegal, ada judi online, adik-adik yang suka belanja ada FOMO, ada YOLO, ada FOPO, serta belanja impulsif dengan insentif diskon dan paylater yang dipicu oleh algoritma digital," paparnya.
Atas dasar inilah, Farid kemudian menyampaikan tiga kebiasaan sederhana agar kondisi keuangan tetap terjaga. Yakni yang pertama untuk membiasakan untuk menyisihkan dana, bukan sisakan. Utamakan menabung sejak kita terima uang.
Kedua, biasakan belanja sesuai kebutuhan, bukan sekadar keinginan. Dalam hal ini, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menggunakan berbagai fasilitas belanja yang kian menggoda akibat berbagai promo digital.
"Punya gadget, dan itu hati-hati, karena algoritma AI terus belajar tentang apa yang kita sukai, menggoda kita semua untuk terus membeli. Jangan biarkan teknologi mengendalikan keputusan keuangan kita. Kita harus tetap pegang kendali," ujar Farid.
Ketiga, bangun 'tabungan' yang tidak berwujud seperti karakter, ilmu, dan relasi. Sebab menurutnya karakter dekat dengan modal spiritual, ilmu adalah human capital, dan relasi yang sehat adalah social capital.
(igo/ara)









































