Pada tahun 2012 sampai 2014, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit, pada 2014 lalu defisit mencapai US$ 2,2 miliar.
Meski demikian, Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengaku, tak terlalu gembira dengan surplus tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika neraca perdagangan surplus karena menurunnya impor mesin misalnya, berarti investasi baru yang masuk berkurang signifikan.
"Kalau kita punya plus atau minus (neraca perdagangan) 1% dari total GDP (Gross Domestic Product) itu masih oke. Saya tidak terlalu prihatin dengan neraca perdagangan secara umum. Surplus harus dilihat juga apa penyebabnya. Kalau orang tidak impor mesin berarti tidak ada investasi," kata Lembong dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (18/1/2016).
Sebaliknya, defisit neraca perdagangan juga tidak selalu negatif. Bila terjadi defisit karena kenaikan impor mesin dan peralatan, berarti ekonomi bergerak karena adanya investasi-investasi baru yang menciptakan lapangan pekerjaan.
"Begitu ekonomi kita menguat, surplus kita bisa berkurang. Tapi itu kan perkembangan yang menggembirakan," ucapnya.
Dia menambahkan, defisit neraca perdagangan pada November dan Desember 2015 lalu belum menunjukkan adanya perbaikan ekonomi nasional.
Defisit yang terjadi pada akhir tahun tersebut terjadi karena kenaikan konsumsi pada musim liburan di akhir tahun dan persiapan untuk awal 2016.
"Ekspor impor bulan Desember pasti banyak pengaruh seasonal, libur akhir tahun. Juga persiapan untuk tahun depan akan banyak building stock untuk tahun berikutnya, jadi banyak impor mesin-mesin dan komponen," tutupnya.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif pada Januari-Desember 2015 mengalami surplus hingga US$ 7,52 miliar.
Nilai ekspor Indonesia pada Januari-Desember 2015 mencapai US$ 150,25 miliar, sedangkan nilai impor secara kumulatif pada periode yang sama US$ 142,74 miliar sehingga ada surplus US$ 7,52 miliar.
Berdasarkan sektor, ekspor non migas hasil industri pengolahan pada 2015 turun 9,11% dibanding 2014, ekspor hasil tambang dan lainnya turun 14.99%, demikian juga ekspor hasil pertanian turun 2,45%.
Sedangkan dari sisi impor, impor barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama 2015 turun masing-masing sebesar 14,16%, 21,35%, dan 15,56%. Penurunan terbesar dialami oleh nilai impor migas yang merosot dari US$ 43,46 miliar pada 2014 menjadi US$ 24,61 miliar tahun ini.
(drk/drk)











































