"Sekarang sudah mulai turun lagi. Daging ayam masih naik 5,5% dibanding sebulan kemarin, dibandingkan seminggu kemarin masih naik 1,7%. Tapi dibandingkan kemarin, hari ini turun 0,14%. Jadi kecenderungannya akan turun," kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina usai Forum Dialog HIPMI di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (21/1/2016).
Menurut Srie, kenaikan harga ayam belakangan ini disebabkan seretnya pasokan jagung yang merupakan bahan baku untuk pakan ternak ayam. Kenaikan harga jagung berefek pada harga daging dan telur ayam.
Pihaknya yakin harga daging ayam bisa segera normal dalam waktu dekat. Apalagi harga bahan pangan pokok lainnya juga sedang dalam tren penurunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR-Indonesia), Hartono, mengungkapkan bahwa tingginya harga ayam dari pemasok ini disebabkan harga jagung yang digunakan untuk pakan ternak ayam mengalami kenaikan, yang sebelumnya Rp 3.000/kg menjadi Rp 5.800-Rp 6.000/kg.
"Harga mahal karena harga jagung yg biasanya Rp 3.000/kg naik menjadi Rp 5.800-Rp 6.000/kg dan langka dan kualitasnya kurang bagus," kata Hartono.
Hartono menambahkan, mahalnya harga jagung juga dikarenakan adanya kebijakan larangan impor jagung dari Kementerian Pertanian (Kementan). Selain itu waktu panen yang lama (4 bulan) disertai dengan kualitas panen yang buruk membuat pasokan jagung minim dan harga melonjak.
Di sisi lain, kondisi ini bak buah simalakama bagi kalangan pedagang. Harga yang tinggi tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat yang baik mengingat Indonesia belum pulih dari perlambatan ekonomi yang terjadi.
Akibatnya tak sedikit pedagang yang mengaku harus menjual ayam dengan harga Rp 40.000/ekor, dengan kata lain mereka harus menanggung rugi lantaran barang yang dijualnya lebih murah dari seharusnya.
(hns/hns)











































