Dirut Mandiri Bicara Peluang dari Perlambatan Ekonomi China

Dirut Mandiri Bicara Peluang dari Perlambatan Ekonomi China

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2016 12:10 WIB
Dirut Mandiri Bicara Peluang dari Perlambatan Ekonomi China
Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Budi Gunadi Sadikin, tidak menutup mata terhadap kondisi perekonomian global saat ini. Terutama perlambatan ekonomi yang terjadi di China. Pada 2015 lalu, ekonomi China hanya tumbuh 6,9%.

Menurut Budi, sebagian pihak mengumbar kekhawatiran akan krisis global terulang kembali karena perlambatan ekonomi China. Tapi di sisi lain, sebenarnya ada peluang yang muncul.

"Jadi dalam setiap krisis memang ada bahaya. Tapi ada peluang juga. Orang selalu melihat bahayanya saja. Padahal sebenarnya ada peluang, bahkan sekalipun ketika krisis datang," ujar Budi, saat Mandiri Investment Forum di Hotel Fairmont (MIF), Jakarta, Rabu (27/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menjelaskan, China sudah menjadi negara besar, ekonominya mungkin hanya akan tumbuh sekitar 6%. Namun secara nominal, China adalah yang terbesar kedua di dunia, berada di bawah Amerika Serikat (AS) yang sekarang ekonominya masih sulit tumbuh.

Sebagai negara besar, China sudah tidak membutuhkan banyak pembangunan. Sementara dana yang berputar di negara tersebut masih banyak. Satu peluang yang bisa dimanfaatkan Indonesia adalah dengan menarik dana tersebut ke dalam negeri.

Tentunya para investor China tidak serta merta akan meletakkan dananya ke dalam negeri, harus ada sesuatu yang menarik. Misalnya dengan posisi Indonesia saat ini yang mampu tumbuh tinggi, sementara banyak negara yang justru mengalami perlambatan lebih dalam hingga menyentuh kontraksi.

"Kita masih jadi pertumbuhan ekonomi ke tujuh, tercepat di dunia. Tidak terlalu buruk. Peluang ada di Indonesia. Tidak di negara lain di dunia. Saya rasa tidak lama lagi, grade investment akan meningkat di Indonesia. Sedangkan Brasil, Rusia, mereka downgrade peringkat mereka," paparnya.

Tidak cukup hanya sampai di situ, sekarang sudah banyak perubahan dari sisi regional. Banyak daerah menurut Budi telah memiliki daya tarik yang besar bagi investor. Seperti Jawa barat, khususnya Bandung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan daerah-daerah di kawasan timur.

"Bandung sebagai kota punya PDB 8,5%. Sangat tinggi dan jauh diatas rata-rata. Jateng PDB 5% masih di atas rata-rata nasional. Populasinya mungkin 3 terbesar di Indonesia. Jadi dia memimpin provinsi yang besar dengan populasi yang sangat besar. Jadi kalau bisa memilih, anda akan temukan pulau kesempatan investasi di Indonesia," terang Budi.

Untuk sektor yang berpotensi, banyak suara yang menyebutkan kata teknologi dan digital. Budi mengakui hal tersebut. Terutama untuk yang masih bersifat baru atau startup.

"Melalui penyelengaraan MIF, kami ingin mengajak investor untuk lebih memperhatikan Indonesia terutama investasi di pembangunan daerah dan perusahaan perintis (startup)," kata Budi. (mkl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads