Kereta Cepat JKT-BDG Lewat Daerah Rawan Gempa, Ini Kata Pengembangnya

Kereta Cepat JKT-BDG Lewat Daerah Rawan Gempa, Ini Kata Pengembangnya

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 04 Feb 2016 17:18 WIB
Kereta Cepat JKT-BDG Lewat Daerah Rawan Gempa, Ini Kata Pengembangnya
Foto: Feby - detikFinance
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta PT Kereta Cepat Indonesia China mengkaji ulang beberapa titik di jalur kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142 kilometer (km). Alasannya, ada beberapa titik jalur berada di daerah rawan gempa.

Menjawab hal ini, KCIC menegaskan. pihaknya telah membuat kajian kegempaan di sepanjang jalur kereta cepat.

"Selama ini pakar lingkungan, Walhi menilai adanya daerah bencana di wilayah Cikampek-Bandung. Ini sudah dikaji sama ahli geologi kita untuk mitigasi daerah rawan gempa," kata Direktur Utama KCIC, Hanggoro Budi Wiryawan, saat press conference di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk melakukan mitigasi bencana, KCIC telah menggandeng Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia (LAPI) ITB, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Hasilnya, diketahui ada 5 titik rawan gempa di area rute Jakarta-Bandung.

"Ada 5 daerah patahan, 3 sudah pasif dan 2 patahan aktif," sebutnya.

Mendapat hasil rekomendasi tersebut, jalur kereta cepat akan menghindari titik patahan gempa yang masih aktif.

"Kita hindari daerah rawan. Kereta cepat dilengkapi sensor gempa, hingga sensor angin. Ini standar di kereta cepat," sebutnya.

Jarak Titik Tengah Rel Diperlebar

KCIC juga menanggapi permintaan Kemenhub untuk menambah jarak antar sumbu atau titik tengah jalur kereta ganda. Kemenhub meminta jarak tengah antar rel menjadi 5 meter, sedangkan KCIC memakai jarak 4,6 meter.

Hanggoro menyebut, jarak 4,6 meter telah sesuai standar kereta cepat di dunia. Untuk jarak antar titik tengah 5 meter, Hanggoro menyebut praktik hanya berlaku untuk kereta cepat yang dibangun pada daerah dengan 4 iklim, sedangkan Indonesia hanya memiliki 2 iklim.

"Kita ajukan rancangan 4,6 meter. Itu ada justifikasi. Kalau jarak 5 meter itu untuk 4 musim, ada salju. Kalau pertimbangan safety, China punya jalur kereta cepat 17.000 km. Itu China pakai 4,6 dan 5 meter. Itu secure secara safety," paparnya.

Bila mengikuti permintaan regulator, KCIC mengklaim investasi akan membengkak karena desain konstruksi bakal berubah total.

"Itu cost kalau structure diperlebar dan tanah diperlebar. Yang penting, kita jamin safety," tegasnya. (hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads