"Karena profil angkatan kerja kita masih diduduki oleh mereka-mereka yang lulus SMA ke bawah. Jadi kalau industri dibangun, dan dibuat kompetitif. Kalau mau kompetitif kan harus update teknologi, harus mekanisasi, makanya dia rekrut tenaga kerja yang lebih punya skill," jelasnya ditemui di kantor Kementerian Tenaga Kerja, Jakarta, Selasa (9/2/2016).
"Tapi faktanya, mayoritas angkatan kerja masih lulusan SMA ke bawah, ini yang jadi tantangan kita," tambah Hanif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya kita harus sepakat, bahwa dalam rangka percepatan serapan tenaga kerja harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi dan peningkatan lewat pelatihan-pelatihan. Nah, sekarang pelatihan kerja yang harus jadi prioritas nasional di semua sektor," ujar Hanif.
Hanif menambahkan, sebenarnya jumlah mereka yang mengalami PHK jauh lebih kecil dibandingkan dengan laju permintaan tenaga kerja.
"Lapangan pekerjaan dan penyerapan itu lebih banyak dari PHK-nya. Tahun 2016 ada kebutuhan tenaga kerja 184.000 yang dibutuhkan, baru terserap 21.000, kalau ada yang bilang ada PHK, maka sini bawa ke saya untuk diklarifikasi," jelas Hanif.
Menurutnya, tak terserapnya permintaan tenaga kerja tersebut terjadi karena kualifikasi angkatan kerja yang masih rendah. (hns/hns)











































