Pasar murah ini digelar untuk menekan harga beras, bawang, dan cabai yang tengah naik.
"Akhir-akhir ini kan harga bawang merah melonjak, cabai merah keriting juga. Kami ingin masyaralat mendapatkan harga yang layak dan petani juga untung dengan memotong rantai yang panjang itu, kalau dibiarkan bisa tidak terkendali. Ini salah satu upaya Kementan untuk mengendalikan harga dan pasokan pangan, terutama yang strategis seperti bawang merah, beras, dan cabai merah keriting," jelas Kapus Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Sulihanti, di sela-sela bazaar Pasar Murah di Gedung Sentral Promosi dan Pemasaran Produk Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (15/04/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam waktu dekat ini, operasi pasar beras seperti ini akan dibuat rutin, barang langsung dari petani. Soalnya sekarang disparitas antara petani dan konsumen terlalu tinggi. Tujuannya untuk masyarakat menengah ke bawah, makanya dibikin per 2 kilogram (kg)," ujar Sulihanti.
Ditemui di tempat yang sama oleh detikFinance, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Gardjita Budi menyatakan, ke depannya Kementan ingin menghubungkan antara gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan Toko Tani Indonesia (TTI) untuk menggelar Pasar Murah.
"Intinya Kementan mau bantu Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang sudah mapan, sehingga memungkinkan mereka menjual produknya yang murah dan pasti untung. Kita membantu Gapoktan packaging dan transport sehingga Toko Tani Indonesia (TTI) bisa menjual kepada rakyat dengan harga murah," jelas Gardjita.
Dengan dihubungkannya dua lembaga ini diharapkan dapat menekan disparitas harga antara petani dan konsumen.
"Toko Tani Indonesia (TTI) akan memotong rantai distribusi yang panjang. Gapoktan dihubungkan ke Toko Tani Indonesia untuk langsung dijual ke konsumen," terang Gardjita. (wdl/wdl)











































