Kadin Lobi Pemerintah Agar Industri Elektronik Masuk RPJM

Kadin Lobi Pemerintah Agar Industri Elektronik Masuk RPJM

- detikFinance
Kamis, 17 Mar 2005 02:31 WIB
Jakarta - Wakil Ketua Umum Kadin bidang Industri, Kelautan dan Teknologi Rachmat Gobel menyatakan akan terus melobi dan meyakinkan pemerintah supaya industri elektronik masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM). Sebab jika masuk RPJM pemerintah dapat memberikan insentif.Gobel, dalam diskusi di Hotel Four Season, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (16/3/2005), juga menyatakan sebagai primadona ekspor kedua dengan nilai ekspor mencapai US$ 8 miliar per tahun, industri elektronik pantas diandalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.Sementara dalam rilisnya Gobel menyatakan sektor industri ini pun mampu memenuhi sejumlah kriteria yang telah ditetapkan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan industri dengan tingkat rata-rata 8,6 persen. Selain berpotensi ekspor industri ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja serta memenuhi kebutuhan dalam negeri."Kendati begitu perkembangannya masih memiliki kelemahan antara lain kurang tersedianya industri pendukung dan industri dasar, masalah standardisasi produk, dan terbatasnya tenaga kerja yang memiliki skill," katanya.Upaya penciptaan iklim usaha kondusif, menurut Gobel, sangat penting untuk menarik industri pendukung untuk melengkapi struktur industri ekonimi nasional. Sehingga dampak investasi dapat memberikan multi player effect terhadap pertumbuhan sektor industri dan perekonomian sekaligus terjadi alih tektonologi seperti diidam-idamkan Indonesia menuju negara teknologi baru."Dibutuhkan dukungan pemerintah melalui kebijakan yang pro industri seperti kebijakan insentif fiskal, jaimnan keamanan, serta kepastian hjukum dalam berusaha," ujar Gobel.Sementara pengurus Gabungan Elektronika (Gabel) Heru Santoso menyatakan karena perubahan kebutuhan elektronik rumah tangga dengan pasar yang besar di Indonesia maka sebaiknya elektronik diproduksi oleh perusahaan dalam negeri. Sedangkan yang diimpor adalah barang-barang hi-tech.Menurut Heru, untuk membangun industri pendukung di Indonesia harus dipatuhi beberapa hal seperti environment compliancest, quality, cost, delivery, services, dan e commerce. Ia mencontohkan keberhasilan Jepang dalam membangun supporting industry dikarenakan adanya kerja sama riset dengan perguruan tinggi serta dukungan pemerintah dimana pemerintah memberi subsidi apabila perusahaan bisa menghasilkan hak paten."Harga elektronik sekarang makin murah dikarenakan terjadinya cost reduction yang bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti penekanan manufacturing dan peningkatan jumlah produk, karena produksi sedikit akan menimbulkan biaya produksi mahal, dan melakukan substitusi komponen," demikian Heru Santoso. (gtp/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads