Uni Eropa dan China Selangkah Lagi Menuju Kemitraan Strategis

Laporan dari Brussel

Uni Eropa dan China Selangkah Lagi Menuju Kemitraan Strategis

Eddi Santosa - detikFinance
Kamis, 14 Jul 2016 14:36 WIB
Uni Eropa dan China Selangkah Lagi Menuju Kemitraan Strategis
Foto: Dok. Pribadi
Brussel - Uni Eropa dan Republik Rakyat China maju selangkah lagi menuju kemitraan strategis. Kedua pihak berhasil mencapai beberapa kesepakatan penting, termasuk prioritas-prioritas kebijakan luar negeri.

Demikian rilis Uni Eropa mengenai hasil-hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) UE-China Ke-18 yang diterima detikFinance Den Haag, Kamis (14/7/2016) pagi waktu setempat.

Kedua pihak antara lain menyepakati suatu pedoman politik untuk menyempurnakan perjanjian komprehensif dalam bidang investasi dan penandatanganan road map (peta jalan) energi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juga berhasil disepakati untuk menyelenggarakan dialog putaran lanjutan mengenai hak-hak asasi manusia (HAM) antara UE dan China tahun ini juga di Brussel.

Di samping itu selama KTT berlangsung kedua pihak juga membahas tantangan-tantangan umum global masa mendatang, termasuk menjamin ketertiban dunia berdasarkan aturan.

Kedua pihak juga setuju, menjelang pelaksanaan KTT G20 yang akan digelar di China pada September mendatang, untuk menanggulangi krisis migrasi di tingkat global.

Pada sisi lain UE juga berharap dapat bekerja sama lebih erat dengan China untuk menangani prioritas-prioritas kebijakan luar negeri, termasuk masalah Suriah, Irak, Afghanistan dan Afrika, juga isu-isu global lainnya seperti bantuan pembangunan dan perubahan iklim.

Dalam KTT Ke-18 di Beijing yang berlangsung selama dua hari (12-13/7/2016) tersebut, UE diwakili oleh Presiden Dewan Eropa Donald Tusk dan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, sedangkan China diwakili oleh Perdana Menteri Li Keqiang.

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk dalam sambutannya seusai KTT kembali menggarisbawahi mengenai pentingnya kerja sama internasional berdasarkan aturan.

"Suatu ketertiban dunia berdasarkan peraturan menjadi kepentingan kita bersama, namun jelas kita memiliki perbedaan apa maknanya dalam praktik," ujar Tusk.

Tusk juga mengaku gembira bahwa menjelang KTT G20 September mendatang di China kedua pihak telah mencapai kesepakatan untuk menanggulangi krisis migrasi di tingkat global.

"Lebih dari 60 juta orang di seluruh dunia kehilangan tempat tinggal dan mencari perlindungan, sehingga masyarakat internasional perlu meningkatkan upayanya," imbuh Tusk.

Politikus kelahiran Gdansk, Polandia, 22 April 1957, itu lebih lanjut juga menyambut gembira kesepakatan kedua pihak untuk melanjutkan dialog HAM putaran berikutnya di Brussel tahun ini juga.

"Tiada keraguan bahwa ada perbedaan pandangan mengenai isu HAM, tapi saya menyambut gembira China siap untuk terlibat," pungkas Tusk. (es/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads