Operator Pelabuhan AS: Dwell Time di Indonesia Sudah Berkurang

Operator Pelabuhan AS: Dwell Time di Indonesia Sudah Berkurang

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 25 Agu 2016 19:40 WIB
Operator Pelabuhan AS: Dwell Time di Indonesia Sudah Berkurang
Foto: Wilpret Siagian
Jakarta - Masalah dwell time atau waktu bongkar muat di pelabuhan kerap menjadi persoalan yang membuat kelancaran arus barang terganggu.

Deputi Direktur Bidang Maritim Pelabuhan San Fransisco Peter A. Dailey mengatakan, masalah dwell time hal yang terjadi di setiap pelabuhan di dunia.

Namun menurutnya, hal ini dapat diatasi dengan melakukan kombinasi antara penerapan teknologi yang mumpuni dan upaya sistematis yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan pengguna jasa di pelabuhan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dwell time selalu jadi masalah di pelabuhan mana pun di dunia. Terutama jika kapal-kapal besar datang. Dwell time memang menjadi kunci ukuran pelayanan pelabuhan-pelabuhan di dunia. Tapi masalah ini terjadi di seluruh pelabuhan di dunia," katanya di Atamerica, Pacific Place, Jakarta, Kamis (25/8/2016).

"Saya rasa dwell time di Indonesia sudah mulai berkurang. Itu saya lihat pas waktu kemarin berkunjung ke Tanjung Priok. Saya terkesan dengan sistem crane-nya. Sistem otomatisasi sudah mulai terlihat. Yang paling menantang adalah membawa kargo dan membawanya keluar pelabuhan," tambahnya.

Menurutnya dengan melakukan koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan baik dari pemerintah selaku pembuat kebijakan dan juga kepabeanan menjadi hal yang mendukung pemangkasan angka dwell time.

Lanjut dia, penerapan teknologi juga menjadi hal yang diperlukan saat ini, seiring dengan perkembangan kapal-kapal dan kargo yang semakin besar setiap tahunnya, sehingga waktu perpindahan peti kemas juga dapat lebih efektif.

"Saya rasa Indonesia sudah punya pelabuhan yang menggunakan teknologi yang semi otomatis. Tapi apa yang saya lihat apa yang terjadi kemarin di Tanjung Priok memang harus bisa lebih kompetitif lagi dengan pelabuhan-pelabuhan di Singapura dan malaysia," tutur dia.

"Dwell time sudah mulai bisa mengatasi hal ini. Ini prosedur yang perlu kordinasi. Jadi pemerintah pembuat regulasi harus bisa mengatasi hal ini. Kunci utama adalah apa yang terjadi di luar pelabuhan itu sendiri. Indonesia memilki modal itu. Itu adalah tantangan. Saya rasa Indonesia sudah mempunyai dana untuk ini," tandasnya.

Dengan melakukan penerapan teknologi, imbasnya memang kerap berdampak pada pengurangan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM). Namun demikian, menurutnya hal ini dapat diatasi dengan perbaikan mutu SDM yang ada sehingga dapat berkontribusi pada bidang usaha yang lainnya.

"Memang teknologi tidak bisa terelakkan. Walaupun keterlibatan manusia di industri ini memang tidak akan ke mana-mana. Mungkin masih akan banyak dipakai ketika pembangunan infrastrukturnya juga. Tentunya pelabuhan tidak mungkin full otomatis. Memang keterlibatan SDM di docking misalnya berkurang jauh dengan teknologi. Tapi mau tidak mau industri harus melakukan ini untuk efektifitas. Mungkin lebih ke peningkatan mutu SDM-nya agar juga bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang lain," pungkasnya. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads