Penjualan VLCC Dinilai Merugikan

Penjualan VLCC Dinilai Merugikan

- detikFinance
Rabu, 30 Mar 2005 21:40 WIB
Jakarta - Pernyataan Pertamina bahwa pemerintah diuntungkan dengan divestasi dua VLCC sangat menyesatkan rakyat. Penjualan VLCC justru merugikan. "Saya membantah pernyataan Pertamina yang menyatakan penjualan VLCC menguntungkan negara yang terjadi sebenarnya justru jauh merugikan," ujar Pengamat Pasar modal Dandossi Matram usai diskusi KPPU di hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (30/03/2005).Menurut Dandossi yang juga Masyarakat Profesional Madani (MPM) dengan penjualan itu pemerintah justru membayar lebih besar karena berarti harus menyewa dalam jangka waktu 5 tahun senilai US$ 50 Juta. Setelah habis masa sewa, harus menyewa kembali."Beli satu VLCC US$ 65 juta masa operasional 25 tahun, lalu kita bagi 5 tahun sesuai masa sewa maka Pertamina hanya membayar US$ 13 juta, lalu kita lihat harga jual Pertamina ke Frontline US$ 95 Juta atau hanya US$ 18 Juta yang diterima Pertamina per lima tahunnya tapi masih harus menyewa," paparnya. "Kapal yang disewa pun lebih kecil dan tua berumur sampai 2010, itu baru satu alasan. Ditambah biaya operasional VLCC US $ 25.850 per hari, bandingkan dengan kapal sewaan yang membutuhkan biaya lebih besar US $ 36.850 perhari karena secara teknis kapal tua membutuhkan biaya besar dan secara non teknis adanya biaya mark up sewa," lanjutnya. Dandossi menduga transaksi penjualan VLCC sangat sarat dengan konspirasi. Pada dasarnya pembelian tidak mengganggu cash flow Pertamina. "Jadi sebenarnya pendanaannya dibiayai kredit dari Korean Exim bank 80 persen dari penerbitan obligasi baik rupiah maupun dolar dengan jangka 8 tahun," demikian Dandossi. (rif/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads