Follow detikFinance
Minggu 25 Sep 2016, 11:59 WIB

Begini Penampakan Sepinya Pusat Grosir Batu Akik Terbesar se-ASEAN

Muhammad Idris - detikFinance
Begini Penampakan Sepinya Pusat Grosir Batu Akik Terbesar se-ASEAN Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Bagi para penggila batu akik, tentu tak asing dengan Jakarta Gems Centre (JGC) Jatinegara, Jakarta Timur. Pusat penjualan batu akik yang lebih dikenal dengan Pasar Rawa Bening ini bisa disebut-sebut sebagai pasar batu mulia terbesar di Asia Tenggara.

Saat demam batu akik masih melanda sebagian masyarakat, pasar yang terletak selemparan batu dari Stasiun Jatinegara ini jadi primadona dan selalu disesaki pemburu batu akik.

Batu akik dari Sabang sampai Merauke, bahkan dari luar negeri, bisa dengan mudah ditemukan di sini. Selain itu, sejumlah pedagang batu akik dari daerah, juga menjadikan Rawa Bening jadi tempat kulakan batu akik sebelum dijual ke daerah.

"Malahan dari impor batu akik dan batu mulia lainnya dari luar negeri juga mampirnya ke sini. Batu yang dijual di daerah-daerah juga asalnya dari sini. Kemudian kayak dari India, Sri Lanka, Afrika, batu-batu zamrud lewat (dijual) di Rawa Bening. Makanya ini yang terbesar di Asia Tenggara," kata Udin, salah seorang pedagang batu akik Rawa Bening yang ditemui detikFinance, Minggu (25/9/2016).


Namun, roda selalu berputar dan tak selamanya berada di atas. Tren booming batu akik yang meroket sejak batu bacan dijadikan hadiah Presiden SBY kepada Barrack Obama saat kunjungannya ke Indonesia itu, saat ini mulai menurun. Rawa Bening pun mulai sepi ditinggal pemburu batu akik dari sejumlah daerah.

"Mulai turun pas Lebaran Idul Fitri lalu. Dari situ penjualan sudah mulai anjlok. Orang sekarang jarang cari batu akik. Dulu untung bersih sehari Rp 15 juta, sekarang Rp 100.000 saja susah minta ampun, drastis turunnya," ujar Udin yang sudah berjualan batu akik selama lebih dari 20 tahun ini.


Sejumlah toko batu akik di Pasar Rawa bening sudah tutup sejak booming batu akik mereda. Pengunjung dan lapangan parkir pun lengang. Padahal saat demam batu akik, tepatnya pertengahan tahun 2015, hampir tak sejengkal pun JGC yang berlantai 3 ini sepi pengunjung.

Tak jauh berbeda, di trotoar di depan JGC, sepanjang Stasiun Jatinegara sampai ke Jalan Raya Jatinegara Timur yang dulunya dipenuhi pedagang batu akik, saat ini bisa dihitung dengan jari.


"Penjualan turun drastis sampai 90% lebih. Dulu sehari bisa jual Rp 15 juta, sekarang dapat Rp 1 juta saja susah minta ampun sejak Lebaran. Dulu ramai, mau keluar susah, lihat orang numpuk," ujar pedagang batu akik lainnya, Anjalin.

"Tahun lalu karyawan yang jaga toko 5 orang, sekarang 2 orang saja. Itu juga banyak bengongnya. Padahal barang sudah kita turunkan, tapi nggak ngaruh, yang beli tetap sepi," terang Anjalin.


Diungkapkan Anjalin, saat masih demam batu akik, semua kalangan menyerbu Rawa Bening. Sekarang saat batu akik tak lagi digandrungi, pembelinya merosot drastis.

"Semua orang datang, orang tua, orang muda, bapak-bapak ibu-ibu, bahkan anak-anak cincin atau kalungnya pakai batu akik. Sekarang palingan yang datang yang memang punya hobi saja," tutupnya.

(drk/drk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed