Ekspor-Impor RI Turun di September, Tapi Neraca Perdagangan Surplus US$ 1,2 M

Ekspor-Impor RI Turun di September, Tapi Neraca Perdagangan Surplus US$ 1,2 M

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 17 Okt 2016 11:52 WIB
Ekspor-Impor RI Turun di September, Tapi Neraca Perdagangan Surplus US$ 1,2 M
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Neraca perdagangan Indonesia pada September 2016 tercatat surplus US$ 1,22 miliar walaupun ekspor dan impor menurun. Ekspor tercatat US$ 12,51 miliar dan impor US$ 11,30 miliar.

"Ini merupakan surplus tertinggi selama 13 bulan terakhir," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Kecuk Suhariyanto, dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (17/10/2016).

Ekspor US$ 12,51 miliar atau turun 1,84% dibandingkan Agustus 2016. Ekspor migas turun 6,78% dari US$ 1,14 miliar menjadi US$ 1,06 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Ekspor non migas turun 1,35% dari US$ 11,61 miliar menjadi US$ 11,45 miliar. Dibandingkan dengan September 2015, ada penurunan 0,59% dari US$ 12,59 miliar.

Akumulasi ekspor Januari - September 2016 sebesar US$ 104,36 miliar atau turun 9,41%. Untuk non migas US$ 94,66 miliar atau turun 6,09%.

"Share ekspor terbesar, Lemak dan Minyak Hewan Nabati US$ 12,08 miliar, Bahan Bakar Mineral US$ 10,09 miliar," katanya.

Sementara untuk pangsa pasar, Amerika Serikat (AS) masih terbesar dengan nilai US$ 11,59 miliar. Di belakangnya ada China US$ 9,71 miliar, Jepang US$ 9,53 miliar, ASEAN US$ 20,81 miliar, dan Uni Eropa US$ 10,43 miliar.

Impor RI juga tercatat turun 8,78% di September. Impor Migas turun 2,97% dari US$ 1,80 miliar menjadi US$ 1,74 miliar. Impor non migas turun 9,77% dari US$ 10,59 miliar menjadi US$ 9,55 miliar.

"Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, impor turun 2,26% dari US$ 11,56 miliar," jelasnya.

Akumulasi impor, yaitu US$ 98,69 miliar atau turun 8,61% (yoy). Sedangkan akumulasi impor non migas, yaitu US$ 84,95 miliar atau turun 4,1%.

Impor terbesar berasal dari China US$ 21,99 miliar, dibuntuti oleh Jepang US$ 9,49 miliar, Thailand US$ 6,64 miliar, ASEAN US$ 18,53 miliar, dan Uni Eropa US$ 7,79 miliar. (ang/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads