Industri pertahanan nasional, khususnya BUMN sektor industri strategis seperti Pindad, PAL, Dahana, Dirgantara Indonesia, dan lainnya juga diminta untuk mampu bersaing dengan produk buatan asing. Kualitas menjadi hal penting yang harus diprioritaskan BUMN dalam memproduksi peralatan pertahanan.
"Tidak mungkin menyerahkan pengadaan alat pertahanan dari luar negeri saja. Kita harus mampu mengembangkan industri pertahanan mandiri," kata Menteri BUMN Rini Soemarno dalam seminarnya di pameran Indodefence di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (3/11/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mohon untuk dalam perencanaan dan pengadaan mengutamakan potensi dan memperdalam industri pertahanan kita. Bahwa itu hanya bisa dicapai apabila di setiap pengadaan mengedepankan jumlah skala keekonomian," tutur Rini.
"Kita dapat nego produsen dunia untuk partner mengembangkan produk dalam negeri dan menjadi bagian global supply chain mereka," lanjut Rini.
Rini memberi contoh, bagaimana PT PAL (Persero) mampu membuat berbagai jenis kapal, baik kapal patroli hingga kapal perang. Hasilnya, produksi kapal PAL sudah diekspor ke bernagai negara di dunia.
"PAL dan galangan kapal BUMN berhasil menyerahkan kapal patroli, landing platform dock dan ekspor dua kapal ke Filipina. Terima kasih kepada Pemerintah Filipina memberikan kesempatan kepada PT PAL," ujar Rini.
Tidak hanya PT PAL (Persero), PT Dirgantara Indonesia (Persero) juga mampu mengirimkan produksi pesawatnya ke luar negeri seperti CN 212 dan CN 235. Produksi PTDI juga sudah digunakan sebagai angkutan TNI Angkatan Udara dan Angkatan Laut.
"Terima kasih PTDI penguatan pemantauan udara dengan CN 212 dan CN 235 dan berbagai jenis helikopter," tutur Rini.
"Kami tekankan bahwa kita dapat meningkatkan kemampuan di industri pertahanan dengan bahu-membahu," tutup Rini. (ang/ang)










































