Harga Minyak Tinggi, Sejumlah Negara Kurangi Konsumsi
Selasa, 05 Apr 2005 14:28 WIB
Jakarta -
Harga minyak dunia yang tetap tinggi menyebabkan sejumlah negara Asia telah mengurangi konsumsi minyaknya termasuk secara perlahan mengurangi beban keuangan negara berupa pengurangan subsidi.Pada perdagangan kemarin, di pasar New York harga minyak jenis Brent naik mencapai US$ 58,28 per barel, sedangkan di London juga menyentuh level baru di atas US$ 57 per barel. Kenaikan ini sebagai akibat naiknya keburuhan bensin akibat mulai tibanya musim panas. Sejak Januari harga minyak di New York telah mengalami kenaikan 38 persen dan di London mengalami kenaikan 47 persen,Sejumlah negara merespon kenaikan harga minyak dunia ini dengan jalan memangkas subsidi minyak yang selama ini dikeluarkan. Langkah ini diperlukan mengingat ada asumsi bahwa kebutuhan minyak akan terus tinggi seperti halnya kebutuhan minyak Cina yang tahun ini akan tumbuh 40 persen akibat pesatnya pertumbuhan perekonomian negara tersebut.Negara-negara yang telah melakukan penyesuaikan kebijakan menyusul tingginya harga minyak dunia antara lain adalah: Indonesia yang sejak 1 Maret 2005 lalu menaikan harga jual BBM rata-rata 29 persen. Kemudian Thailand juga telah menaikan harga minyak diesel pada pertengahan Maret lalu sebesar 20 persen. Hal yang sama juga dilakukan oleh Cina dan Vietnam yang akan segera diikuti oleh Malaysia.Di luar negara Asia, Nigeria sejak tahun 2003 lalu telah memutuskan untuk mengatur ulang harga BBM dan mengurangi subsidi namun diimbangi dengan upaya kompensasi terhadap kelompok kelas bawah. Selama ini subsidi harga BBM dianggap sebagai kebijakan yang dianggap mudah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan juga meningkatkan kesejahteraan.Namun demikian menurut analis dari IEA Lawrence Eagles sebagaimana dikutip AFP, Selasa (5/4/2005) kebijakan subsidi BBM adalah kebijakan yang teramat sulit ketika harga minyak dunia melambung sangat tinggi. Pasalnya pemerintah perlu mengurangi subsidi tersebut untuk bisa mengendalikan konsumsi BBM agar tidak terjadi pemborosan energi.Negara lain yang juga sudah menyatakan akan mengurangi konsumsi BBM-nya adalah Philipina. Presiden Gloria Arroyo suda menyatakan akan melakukan penghematan konsumsi BBM dengan jalan mengurangi jam kerja jika selama ini pegawai swasta dan pegawai negeri bekerja seminggu empat hari dengan jam kerja 10 jam akan diubah menjadi 5 hari kerja dengan jam kerja 8 jam pada April dan Mei mendatang.
(san/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































