Ini sudah termasuk di dalamnya jenis valutas asing (valas). Pemerintah sudah mengawali dengan penerbitan surat utang global berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS). Jumlahnya US$ 3,5 miliar, atau sekitar Rp 46 triliun.
Sementara untuk sisa denominasi valas akan direalisasikan pada semester I-2017, kecuali yen atau samurai bond.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini mempertimbangkan kondisi perekonomian global, khususnya pasar keuangan. Di mana ada risiko gejolak karena rencana kenaikan suku bunga acuan AS oleh Federal Reserve (The Fed) yang diproyeksi 50 bps. Di samping itu juga adalah perkembangan Uni Eropa dan Jepang serta China.
"Pertimbangannya adalah kenaikan suku bunga acuan yang akan terjadi tahun depan, sehingga lebih cepat lebih baik," ungkap Robert.
Meski demikian, pemerintah akan tetap berhati-hati dalam menerbitkan surat utang dan tidak seagresif pada periode 2016. Ini menyangkut kebutuhan pembiayaan, waktu dan tempat yang tepat.
Indonesia cukup diuntungkan karena instrumen surat utang yang diterbitkan sudah dikenal oleh investor. Sehingga optimis surat utang yang akan diterbitkan laris manis seperti sebelumnya.
"Euro dan Jepang masih akan lebih bagus, jadi kami optimis di dua market itu," kata Scenaider Siahaan, Direktur Strategi Portofolio Utang pada kesempatan yang sama (mkl/ang)











































