Mentan Ingin Tapin Jadi Lumbung Bawang, Begini Caranya

Mentan Ingin Tapin Jadi Lumbung Bawang, Begini Caranya

Yulida Medistiara - detikFinance
Kamis, 15 Des 2016 13:05 WIB
Mentan Ingin Tapin Jadi Lumbung Bawang, Begini Caranya
Foto: Yulida Medistiara
Tapin - Menteri Pertanian menyaksikan gerakan tanam padi dan budidaya bawang dan cabai di Desa Sabah, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Ia melihat ada potensi yang besar di Kalsel, khususnya Tapin untuk dikembangan bawang sehingga dia berharap dapat menjadi lumbung pangan bawang.

Amran menyebut awalnya saat uji coba penanaman bawang di Tapin hanya menggunakan 4 ha lahan. Akan tetapi, meluas menjadi 100 ha lahan yang ditanami bawang dengan produksi rata-rata saat ini 9 ton hingga 10 ton per hektar dari luas hamparan lahan 410 ha.

"Kita sudah melihat langsung bawang luasnya 410 ha realisasi selama 71 tahun baru mengenal tanam bawang. Harapan kami nanantinya Tapin ini memenuhi kebutuhan bawang. Kita jadikan pusat bawang Kalimantan adalah kecuali Kalbar adalah Tapin. Bila perlu Tapin ini mengekspor ke negara tetangga," kata Amran, di lokasi, Kamis (15/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan begitu, Amran menargetkan tahun 2017 akan ada penambahan 200 ha luas lahan tambah tanam bawang dengan anggaran Rp 8 miliar. Dia berharap jika ditargetkan penambahan 200 ha luas lahan tambah tanam bawang diharapkan akan menjadi 2 kali lipat luasnya sehingga produksi pun meningkat.

"Rata-rata 9-10 ton per ha hasilnya ini sangat menggembirakan sehingga kita dorong supaya 200 ha tambahan semoga sudah mencapai tahun depan 600-800 ha yang ditanami bawang. Mudah-mudahan ini jadi lumbung pangan di Kalimantan," imbuh Amran.

Nantinya jika telah berkembang menjadi 800 ha luas tanam bawang, maka akan ditambahkan lagi menjadi 100 ha luas tambah lahan tanam hal itu karena Tapin memiliki potensi produksi bawang hingga 17 ton, tidak jauh dari Kalbar yang memiliki potensi produksi bawang mencapai 16 ton.

"Potensi produktifitas sampai 17 ton, kalau di Kalimantan Barat ini 16 ton. Persoalannya kita tidak mulai tanam, coba baru setelah 71 tahun Indonesia merdeka itu langsung berhasil," imbuh Amran.

Awalnya sebelum Kalsel dapat memproduksi bawang, harga jual cabai mencapai Rp 60.000/ kg hal itu karena dibebankan biaya logistik karena bawang didapat dari Sulteng dan Brebes. Namun, setelah mampu memproduksi sendiri, bawang di Kalsel khsusunya di Tapin dijual Rp 20.000 - Rp 25.000/kg yang artinya menekan inflasi.

"Mimpi kami nggak ambil bawang dan cabai dari tempat lain. Serta beras harus swasembada sehingga itu biaya angkut bisa kita kantongi sehingga harganya tidak ditanggung masyarakat karena mahal logistik," imbuh Amran.

Untuk mendukung persiapan luas tambahan 200 ha itu, Amran memberikan petani lokal bantuan berupa alat mesin pertanian (alsintan), traktor, pompa, dan alat pengering untuk petani bawang.

"Alat pasca panen padi sebanyak 10 unit traktor, alat tani padi berupa mesin tanam atau tranceter, traktor roda 4 12 unit, 28 unit combain harvester, 56 unit alat tanam padi, 12 unit traktor roda 4, tambahan 5 traktor dan pompa air. Tolong berikan Rp 2 miliar sisipkan buat pengering, mudah-mudahan beberapa minggu ke depan sudah tiba," kata Amran. (dna/dna)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads