Neraca Perdagangan RI Surplus, Sri Mulyani: Harga Komoditas Sudah Mulai Positif

Neraca Perdagangan RI Surplus, Sri Mulyani: Harga Komoditas Sudah Mulai Positif

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 15 Des 2016 14:25 WIB
Neraca Perdagangan RI Surplus, Sri Mulyani: Harga Komoditas Sudah Mulai Positif
Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Neraca Perdagangan RI November 2016 tercatat surplus sebesar US$ 837,8 juta atau Rp 10,8 triliun dengan ekspor US$ 13,50 miliar dan impor US$ 12,66 miliar. Secara akumulasi Januari-November 2016 juga tercatat surplus US$ 7,79 miliar.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, lonjakan tajam ekspor di November terjadi karena beberapa harga komoditas mulai merangkak naik. Kenaikan beberapa harga komoditas juga harus dilihat juga dari sisi volume ekspor.

"Indikatornya pada kuartal terakhir memang menunjukkan bahwa beberapa harga komoditas sudah mulai positif, tetapi kita tentu akan melihat dari sisi volumenya," jelas Sri Mulyani dalam acara Indonesia Economic Outlook 2017 di Hotel Mulia, Jakarta Selatan, Kamis (15/12/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk komoditas barang tambang juga tercatat mulai tumbuh. Surplusnya ekspor pada November juga sekaligus menjadi momentum kebangkitan perdagangan luar negeri Indonesia.

"Tetapi memang kita lihat bahwa dalam bulan terakhir ini ekspor kita sudah flat dari sebelumnya negatif dan bahkan beberapa kegiatan di sektor pertambangan sudah mencetak positif growth, jadi itu bagus," tutur Sri Mulyani.

Untuk ke depannya, ekspor Indonesia juga akan sangat dipengaruhi dari kondisi ekonomi negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat (AS). Dengan kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 0,25% ke level 0,75% juga menandakan adanya perbaikan ekonomi di negeri Paman Sam.

"Untuk trennya nanti kita harus lihat dulu di 2017 nanti, kalau mesin ekonomi di negara-negara maju mulai menyala terutama Amerika Serikat. Tampaknya dengan kenaikan suku bunga tetapi di iringi optimisme bahwa pertumbuhan ekonominya lebih tinggi dari tahun ini 1,9% di mana tahun depan di atas 2%," tutur Sri Mulyani. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads