Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 21 Des 2016 09:20 WIB

RI, Negeri Tempe yang Masih Bergantung Pada Kedelai Impor

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Meski jadi negara konsumen kedelai terbesar kedua di dunia setelah China, kebutuhan kedelai Indonesia bergantung dari impor. Setiap tahun, rata-rata angka impor kedelai di atas 2 juta ton, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat (AS).

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin, mengungkapkan hampir sebanyak 70% dari total impor tersebut dipenuhi dari AS. Sisanya berasal dari Brasil, Uruguay, dan Kanada.

"Impor paling besar dari Amerika Serikat, itu porsinya 60% sampai 70%. Sisanya yang 30% dibagi antara Uruguay, Brasil, dan negara lain seperti Kanada," kata Aip kepada detikFinance, Rabu (21/12/2016).

Dia mengungkapkan, Indonesia sebenarnya pernah mengalami swasembada kedelai pada tahun 1992. Saat itu produksi kedelai dalam negeri mencapai 1,8 juta ton. Sementara, saat ini produksi kedelai menyusut drastis tinggal sekitar 800.000 ton per tahun dengan kebutuhan nasional sebesar 2,5 juta ton, terbanyak untuk diserap industri tahu dan tempe.

"Dulu kedelai kalaupun masih impor itu dikendalikan Bulog. Sekarang sudah free trade, siapa pun boleh impor, akhirnya petani kedelai nggak diperhatikan," jelas Aip.

Sebagai informasi, kebutuhan kedelai dalam negeri sendiri setiap tahun sebesar 2,7 juta ton dan terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Sementara produksi kedelai dalam negeri berkisar sekitar 800.000 setahun dengan kekurangannya dipenuhi dari impor. (wdl/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com