Jumlah PSO untuk KRL Jabodetabek tersebut naik dari tahun 2016 yang besarannya Rp 1,1 triliun. Lantas dengan kenaikan subsidi pemerintah tersebut, akankan tarif KRL bisa turun tahun ini?
VP Corporate Communications PT KAI, Agus Komarudin mengungkapkan, sampai saat ini belum ada rencana perubahan tarif tiket KRL Jabodetabek meski ada penambahan subsidi dari PSO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam GAPEKTA (Grafik Perjalanan Kereta Api) 2017, KAI memang melakukan penambahan jumlah perjalanan KRL antara lain Bogor-Kota dari 206 perjalanan di 2016 menjadi 215 perjalanan, Bekasi-Kota dari 152 perjalanan menjadi 153 perjalanan, Tanah Abang-Rangkasbitung dari 151 perjalanan menjadi 179 perjalanan, Tanjung Priok-Kota dari 14 perjalanan menjadi 42 perjalanan. Sementara rute Duri-Tanggerang berkurang dari 96 perjalanan menjadi 80 perjalanan.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Prasetyo Boeditjahjono menjelaskan, alokasi besar untuk KRL dilakukan lantaran pemerintah lebih fokus mensubsidi untuk moda transportasi harian, seperti KRL Jabodetabek.
"Ada perubahan komposisi untuk (subsidi) kereta jarak jauh dan antar kota yang dulu 35%, sekarang jadi 15%. Jadi komposisi kereta perkotaan naik dari 65% menjadi 85%. Karena ini kan dipakai setiap hari, terutama Jabodetabek," ujar Prasetyo.
Dia merinci, selain KRL yang mendapat alokasi PSO Rp 1,34 triliun, kereta perkotaan lainnya yakni Kereta Rel Diesel (KRD) Rp 94,79 miliar, dan KA Jarak Dekat Rp 379,89 miliar.
"Ini bukan berarti subsidi PSO angkutan antar kota dikurangi, tapi prioritas amanatnya diutamakan untuk yang setiap hari digunakan masyarakat," ujar Prasetyo. (idr/drk)











































