Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto, menyoroti tingginya konsumsi rokok sebagai kontributor terbesar kedua pada angka kamiskinan setelah beras.
Persentase sumbangan konsumsi rokok terhadap garis kemiskinan pada September 2016 mencapai 10,7% di perkotaan maupun di pedesaan. Angka tersebut naik dari rasio Maret 2016 dimana rokok menyumbang kemiskinan sebesar 9,08% di perkotaan dan 7,96% di pedesaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain sumbangan rokok, BPS juga menyoroti tingginya kontribusi daging sapi pada garis kemiskinan yang melonjak tajam pada September 2016.
Jika sebelumnya pada Maret 2016 daging sapi hanya menyumbang angka garis kemiskinan sebesar 0,19% di perkotaan dan 0,09% di pedesaan, pada September 2016 melonjak menjadi 4,98% di perkotaan dan 3,47% di pedesaan.
"Daging sapi ini kok besar sekali di September 2016 dalam hal pengaruhnya ke kemiskinan, kemungkinan karena di September ada Idul Adha. Biasanya sapi ini pengaruhnya kecil sekali, tapi ini tumben jadi besar," papar Suhariyanto.
Beberapa komoditas pangan lain yang kontribusinya cukup besar menyumbang angka kemiskinan pada September 2016 antara lain telur ayam ras di perkotaan 3,18% dan pedesaan 2,76%, daging ayam ras di perkotaan 3,1% dan pedesaan 2,19%, serta mie instan di perkotaan 2,43% dan pedesaan 2,28%.
Sementara komoditas bukan pangan yang menyumbang garis kemiskinan terbesar yakni perumahan di perkotaan 9,81% dan pedesaan 7,63%, listrik di perkotaan 2,88% dan pedesaan 1,59%, bensin di perkotaan 2,84% dan pedesaan 2,31%, serta pendidikan di perkotaan 2,49% dan pedesaan 1,49%. (idr/ang)











































